Kanada tengah berupaya keras menjadi pemain utama di pasar gas alam cair (LNG) global. Namun, ambisi besar ini menuai sorotan tajam. Fasilitas ekspor LNG pertama negara itu, LNG Canada, yang mulai beroperasi di Kitimat, British Columbia pada pertengahan 2025, langsung mendapat lampu hijau untuk ekspansi senilai 33 miliar dolar AS. Ekspansi ini akan menggandakan produksi dalam beberapa tahun ke depan.
Di balik gelontoran dana raksasa tersebut, warga lokal mengungkapkan keresahan mereka. Sejak fasilitas mulai diuji coba pada akhir 2024, masalah pada peralatan pembakaran gas (flaring) menyebabkan pemborosan 350 juta meter kubik gas pada 2025. Warga yang enggan disebutkan namanya mengeluhkan kebisingan luar biasa dari proses flaring yang jauh melebihi perkiraan. Dampak lingkungan juga mulai terasa. Seorang warga mengaku kehilangan pemandangan bintang di kampung halamannya, sementara yang lain mencatat kondisi asma temannya memburuk saat kembali ke daerah tersebut. Kekhawatiran ini disampaikan secara anonim karena Kitimat adalah komunitas kecil di mana proyek industri ini menjadi salah satu penopang ekonomi utama.
Meski demikian, proyek ini tetap mendapat dukungan politik kuat. Di tengah tekanan tarif dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang membebani sektor baja, kayu, dan aluminium Kanada, pemerintah federal justru mempercepat langkah. Perdana Menteri Mark Carney baru-baru ini memasukkan LNG Canada dan Ksi Lisims LNG ke dalam daftar proyek prioritas nasional. Langkah ini didukung oleh pembentukan Kantor Proyek Utama yang bertugas mempercepat infrastruktur strategis. Carney menegaskan komitmennya untuk membangun kembali skala besar Kanada dengan proses perizinan yang lebih cepat dan efisien. Namun, di sisi lain, para kritikus dan pengamat ekonomi mempertanyakan fundamental pasar minyak dan gas untuk 10 hingga 20 tahun ke depan, serta menyoroti rekam jejak investor korporat besar yang terlibat dalam proyek ini terkait isu hak asasi manusia dan kerusakan lingkungan di masa lalu.