Kuba akhirnya bisa bernafas lega, setidaknya untuk sementara. Setelah tiga bulan dilanda krisis energi parah, sebuah kapal tanker berbendera Rusia sukses berlabuh di Teluk Matanzas, pelabuhan utama Kuba, membawa 730.000 barel minyak mentah. Pengiriman ini bukan sekadar kabar baik, melainkan sebuah pernyataan politik yang kuat dari Moskow, yang menegaskan komitmennya untuk membantu sekutu terdekatnya di Karibia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam keterangannya di Moskow, dengan tegas menyatakan, “Kuba adalah sahabat dan mitra terdekat kami di Karibia, dan kami tidak punya hak untuk meninggalkannya. Bantuan untuk Kuba akan terus berlanjut.” Tak hanya itu, Rusia juga menuntut Amerika Serikat untuk segera mencabut “blokade” yang mereka berlakukan terhadap negara berdaulat itu.
Krisis energi di Kuba memang sudah di ambang batas. Sejak awal tahun, khususnya setelah insiden terkait Presiden Venezuela Nicolas Maduro – Venezuela adalah pemasok minyak utama Kuba – negara ini kehilangan pasokan vital. Akibatnya, pemadaman listrik sering terjadi, layanan rumah sakit, transportasi umum, hingga produksi pertanian terancam lumpuh di negara berpenduduk 10 juta jiwa ini.
Menteri Energi dan Pertambangan Kuba, Vicente de la O Levy, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Melalui media sosial, ia menyampaikan, “Terima kasih kami kepada Pemerintah dan Rakyat Rusia atas semua dukungan yang kami terima. Sebuah pengiriman berharga yang tiba di tengah situasi energi kompleks yang kami hadapi.”
Namun, ada satu detail menarik yang membuat situasi ini makin kompleks: pengiriman minyak oleh tanker Anatoly Kolodkin ini bisa terlaksana justru setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump kala itu mengizinkannya melintas, terlepas dari blokade energi AS yang masih berlangsung. Trump sendiri, saat itu, beralasan mengizinkan pengiriman untuk alasan kemanusiaan. Meski begitu, ia tetap melontarkan kritik pedas, menyebut Kuba punya “rezim yang buruk” dan kepemimpinan yang “sangat buruk dan korup,” sambil meremehkan dampak bantuan minyak tersebut. Ia berujar, “Kuba sudah tamat. Baik mereka mendapat kapal minyak atau tidak, itu tidak akan jadi masalah.”
Pengiriman minyak ini memang memberi sedikit ruang bernafas bagi pemerintah Kuba di tengah tekanan berat dari Washington. Namun, para ahli memperkirakan 730.000 barel minyak ini hanya bisa diolah menjadi sekitar 180.000 barel solar, cukup untuk memenuhi kebutuhan harian Kuba selama sembilan hingga sepuluh hari saja. Ini artinya, bantuan ini sifatnya sementara dan krisis energi Kuba, yang hanya memproduksi sekitar 40 persen dari kebutuhan bahan bakarnya sendiri, masih jauh dari kata usai. Kuba akan terus bergantung pada impor, dan tensi geopolitik antara Washington, Moskow, dan Havana kemungkinan besar akan tetap tinggi.