GEDUNG TARGET TEROR: KASUS PEMBAKARAN DI INGGRIS TERKAIT INTEL RUSIA - Berita Dunia
← Kembali

GEDUNG TARGET TEROR: KASUS PEMBAKARAN DI INGGRIS TERKAIT INTEL RUSIA

Foto Berita

London, Al Jazeera – Pengadilan di Inggris menjatuhkan vonis bersalah kepada dua pria atas serangkaian aksi pembakaran yang menyasar properti dan mobil milik Perdana Menteri Keir Starmer. Vonis ini dijatuhkan setelah proses persidangan yang berlangsung selama berbulan-bulan di ibu kota Inggris.

Juri di London pada Senin (24/3) menyatakan warga Ukraina, Roman Lavrynovych (22), dan warga Rumania, Stanislav Carpiuc (27), bersalah atas konspirasi melakukan pembakaran. Serangan itu terjadi selama lima hari pada Mei tahun lalu, menargetkan rumah yang ditinggalkan Starmer saat ia menjadi perdana menteri pada 2024. Sebuah rumah yang sebagian dimiliki Starmer dan mobil bekas miliknya juga menjadi sasaran.

Jaksa penuntut mengungkapkan bahwa Lavrynovych diarahkan oleh seorang individu berbahasa Rusia melalui aplikasi Telegram dengan nama samaran 'El Money'. Sebagai imbalan, ia dijanjikan bayaran sekitar 4.000 dolar AS dalam bentuk mata uang kripto. Meski tidak ada bukti langsung bahwa serangan itu disponsori negara, laporan investigasi BBC yang dirilis pada hari yang sama mengklaim aksi ini bagian dari kampanye sabotase dan disinformasi yang dijalankan oleh dinas intelijen Rusia.

Kepala Kepolisian Kontra-Terorisme London, Helen Flanagan, menyatakan bahwa 'El Money' bertujuan menciptakan ketakutan dan kekacauan di Inggris. "Tidak ada bukti bahwa para pelaku tahu mereka menargetkan perdana menteri. Namun, jelas niat dari otak di balik layar adalah menimbulkan ketidakpastian dan keresahan," ujarnya.

BBC mengidentifikasi 'El Money' sebagai diplomat Rusia berusia 23 tahun bernama Evgeny Lyukshin, yang disebut dekat dengan kekuasaan tertinggi di Moskow. Kedutaan Besar Rusia membantah keras tuduhan itu dan menyatakan tidak mengancam Inggris. Kedua terpidana akan dijatuhi hukuman pada Jumat pekan ini.

Analisis Dampak: Kasus ini membuka mata dunia tentang bagaimana konflik hibrida (perang non-fisik) bisa menyasar langsung ke pusat kekuasaan negara lawan. Modus pembayaran kripto dan perintah lewat Telegram menunjukkan celah keamanan baru yang sulit dilacak. Bagi masyarakat, ini jadi pengingat bahwa ancaman terorisme kini tak lagi datang dari kelompok bersenjata, tapi bisa dari individu yang 'direkrut' secara daring oleh aktor negara. Inggris kini berada dalam tekanan diplomatik yang lebih besar terhadap Rusia, sementara warga mulai mempertanyakan keamanan infrastruktur publik dan figur negara.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook