Kecelakaan maut kereta cepat di Spanyol kembali mencoreng wajah transportasi publik negara itu. Setidaknya 68 orang tewas dan 77 lainnya luka-luka setelah kereta penumpang menghantam lokomotif yang tengah berhenti di jalur antara Urda dan Los Yebenes, wilayah pedesaan di selatan Toledo, Rabu pagi waktu setempat.
Insiden ini menjadi pukulan telak karena terjadi hanya sembilan bulan setelah kecelakaan serupa di jalur yang sama, tepatnya di Adamuz dekat Cordoba, yang menewaskan 46 orang. Pertanyaan besar pun muncul: seberapa seriuskah investasi perawatan jalur kereta di Negeri Matador ini?
Menteri Transportasi Oscar Puente mengungkap fakta mengejutkan. Kereta Renfe tersebut ternyata mendapat izin untuk terus melaju meski sinyal merah menyala akibat adanya kereta statis milik konsorsium Italia, Iryo, di depannya. Sinyal merah itu sendiri muncul karena kegagalan komunikasi komputer. Namun, perintah "tidak bisa dijelaskan" dari pusat kendali membuat kereta tetap jalan. Puente menegaskan, masinis tidak bisa disalahkan dalam insiden ini.
Perdana Menteri Pedro Sanchez langsung menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Ia menyebut situasi ini sebagai hal yang "tidak bisa diterima" bagi negara sebesar Spanyol. Sementara itu, tim penyelamat masih berjibaku mengevakuasi korban dari tumpukan gerbong yang ringsek parah. Seorang saksi mata, dr. Sebastian Herrero, menggambarkan kondisi di lokasi seperti "apokaliptik" dan mirip ledakan bom.
Di tengah duka, tensi politik memanas. Serikat pekerja Solidarity yang berafiliasi dengan partai sayap kanan Vox menggelar demonstrasi di Madrid menuntut Menteri Puente mundur. Polisi antihuru-hara pun dikerahkan untuk mengamankan aksi tersebut. Masyarakat kini menanti hasil investigasi yudisial untuk mengungkap siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kelalaian fatal ini.