Demonstrasi besar-besaran di Albania telah memasuki hari ketujuh dan berubah menjadi kekacauan total. Ribuan pengunjuk rasa, yang didominasi oleh pelajar dan mahasiswa, turun ke jalan untuk menuntut mundur Perdana Menteri Edi Rama. Mereka murka akibat kondisi kampus yang memprihatinkan, praktik korupsi yang merajalela, serta kepemimpinan Rama yang dianggap gagal.
Bentrokan fisik antara demonstran dan aparat keamanan pun tak terhindarkan. Data resmi menyebutkan sebanyak 295 orang menjadi korban luka-luka, dengan mayoritas merupakan anggota kepolisian. Situasi di Tirana semakin memanas setelah sebuah kantor polisi dan gedung pemerintahan menjadi sasaran amuk massa.
Di tengah kekacauan ini, PM Edi Rama memberikan pernyataan kontroversial. Ia menuding aksi protes ini sebagai bagian dari 'serangan terkoordinasi' yang didalangi kekuatan gelap dari Eropa dan Amerika Serikat. Rama bahkan menyebut para demonstran telah diradikalisasi oleh pihak luar.
Pantauan di lapangan menunjukkan adegan dramatis. Di Taman Rinia, para pemuda membongkar batu jalanan untuk dijadikan amunisi melawan polisi. Aparat membalas dengan menembakkan water cannon dan gas air mata. Seorang pengacara HAM setempat, Gentian Sejrani, mengkritik tindakan polisi yang dinilainya seringkali kacau dan tidak berdasar. Ia mendampingi lebih dari 100 orang yang ditangkap, termasuk mereka yang tidak terlibat dalam aksi unjuk rasa.
Analisis Dampak: Eskalasi kekerasan ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas kota, tetapi juga mencoreng citra demokrasi Albania di mata internasional. Keterlibatan mahasiswa sebagai motor penggerak menunjukkan kekecewaan generasi muda terhadap masa depan negara. Jika pemerintah terus menggunakan pendekatan represif tanpa membenahi akar masalah korupsi dan pendidikan, gelombang protes diperkirakan akan semakin sulit dibendung dan berpotensi memicu instabilitas politik yang lebih luas.