Maskapai penerbangan murah asal Irlandia, Ryanair, tengah mempertimbangkan kebijakan pembekuan gaji sementara bagi para stafnya. Langkah ini diambil sebagai upaya penyelamatan finansial akibat lonjakan tajam biaya bahan bakar pesawat yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Manajemen Ryanair memproyeksikan harga bahan bakar akan tetap mahal setidaknya hingga tahun 2027 mendatang, kecuali ada solusi damai yang cepat terkait konflik tersebut. Dalam jangka pendek, tagihan bahan bakar maskapai ini diperkirakan membengkak hingga 2 miliar Euro atau sekitar Rp34 triliun.
Untuk menutupi defisit tersebut, Ryanair berencana menaikkan harga tiket penerbangan di Eropa. Namun, kenaikan tarif saja dinilai tidak cukup. Oleh karena itu, opsi pembekuan gaji staf menjadi salah satu langkah efisiensi yang sedang dikaji serius oleh perusahaan. Hingga berita ini diturunkan, pihak serikat pekerja Unite yang mewakili karyawan Ryanair belum memberikan komentar resmi terkait rencana tersebut.
Analisis Dampak: Kebijakan ini berpotensi memicu gelombang protes dari serikat pekerja di Eropa karena dianggap merugikan hak karyawan. Bagi konsumen, kenaikan harga tiket Ryanair akan berdampak langsung pada biaya perjalanan wisatawan backpacker atau pekerja migran yang sangat bergantung pada maskapai berbiaya rendah ini. Jika konflik di Timur Tengah tidak mereda, industri penerbangan global harus bersiap menghadapi era baru 'tiket mahal' akibat krisis energi.