Jakarta - Negara-negara di kawasan Balkan ternyata tidak memiliki sikap seragam terhadap Israel. Sikap mereka sangat dipengaruhi oleh kepentingan politik dalam negeri, hubungan dagang, dan sejarah konflik masa lalu, bukan karena satu visi bersama soal Timur Tengah.
Menurut para pengamat internasional, perbedaan sikap ini paling kentara di Bosnia dan Herzegovina. Di wilayah Federasi Bosnia (mayoritas Bosniak/Muslim), rakyat dan politisi sangat vokal membela Palestina, mencerminkan trauma sejarah mereka sebagai korban agresi nasionalis Serb di era 90-an. Sebaliknya, di Republika Srpska (mayoritas Serb), para pemimpin justru terbuka mendukung Israel.
Analis menilai fenomena 'musuh dari musuhku adalah temanku' ini digunakan oleh pemimpin Serb, Milorad Dodik, untuk mencari sekutu internasional guna memperkuat ambisi separatisme mereka, sekaligus menjaga hubungan baik dengan Rusia dan Amerika Serikat secara bersamaan.
Dampak bagi Masyarakat: Bagi warga di kawasan ini, isu Gaza sering dijadikan komoditas politik identitas. Solidaritas terhadap Palestina atau Israel dijadikan alat mobilisasi massa untuk memperkuat nasionalisme sempit, yang berisiko memperlebar jurang pemisah antar-etnis di Balkan.