TRAGEDI SUBWAY NEW YORK UNGKAP KELEMAHAN POLISI KOTA - Berita Dunia
← Kembali

TRAGEDI SUBWAY NEW YORK UNGKAP KELEMAHAN POLISI KOTA

Foto Berita

Kota New York geger pada 12 April lalu. Seorang pria 62 tahun bernama Frank James meledakkan bom asap dan melepaskan tembakan membabi buta di dalam gerbong kereta bawah tanah yang ramai di Brooklyn. Insiden mengerikan ini melukai 29 orang, beruntung tidak ada korban jiwa.

Meskipun Kepolisian New York (NYPD) memiliki anggaran fantastis senilai $10,4 miliar dan 36.000 personel, termasuk 3.250 polisi khusus transit, perburuan Frank James justru diwarnai kegagalan. Salah satu petugas di lokasi kejadian bahkan tak bisa menggunakan radionya dan meminta warga sipil menelepon 911. Parahnya lagi, semua kamera pengawas di Stasiun 36th Street, lokasi penembakan, ternyata tidak berfungsi dengan baik.

James bahkan meninggalkan banyak petunjuk, mulai dari kunci mobil U-Haul yang disewa atas namanya sendiri hingga kartu kredit yang ia gunakan. Saking banyaknya petunjuk, beberapa orang menyamakannya dengan karakter 'The Riddler' yang sengaja meninggalkan teka-teki. Namun, James tetap bisa kabur selama lebih dari sehari.

Jadi, bagaimana akhirnya James tertangkap? Komisioner NYPD Keechant Sewell sempat mengatakan mereka 'tidak memberi ruang gerak lagi'. Tapi, fakta lebih mengejutkan: James sendiri yang merasa bosan menunggu dan menelepon polisi untuk melaporkan dirinya. Namun, penangkapan sebenarnya terjadi berkat Zack Tahhan, seorang imigran Suriah berusia 21 tahun yang bekerja sebagai teknisi kamera keamanan. Ia melihat James berjalan di East Village dan langsung mengenali dari foto polisi. Ya, penembak kereta bawah tanah Brooklyn ini justru ditemukan oleh warga biasa, bukan oleh ribuan polisi dengan anggaran jumbo.

Insiden ini menyoroti masalah lebih besar: banyak orang keliru mengira polisi berhasil memecahkan kejahatan setiap hari. Padahal, riset profesor hukum Shima Baughman dari University of Utah menunjukkan, hanya 11% kejahatan serius yang berakhir dengan penangkapan, dan cuma 2% yang berujung pada vonis. Mayoritas kejahatan serius justru tak terpecahkan.

Lalu, apa yang dilakukan polisi? Sebagian besar petugas menghabiskan 46% hingga 81% waktu mereka untuk 'tugas tak teralokasi', seperti makan siang atau mengisi formulir. Saat berpatroli pun, banyak yang malah asyik bermain ponsel. Masalah ini sampai membuat Wali Kota Eric Adams, yang notabene mantan polisi, frustrasi. Dua minggu setelah penembakan, Adams bahkan meminta warga mengiriminya foto-foto petugas yang menggunakan ponsel saat bertugas. 'Kami akan mengambil tindakan agresif untuk memastikan polisi berpatroli di sistem kereta bawah tanah kita, bukan berpatroli di iPhone mereka,' tegasnya.

Citra polisi sebagai 'petugas pejuang' di Amerika Serikat sudah puluhan tahun mendominasi, padahal sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk menanggapi panggilan non-kriminal seperti insiden lalu lintas atau kejahatan ringan. Hanya sebagian kecil waktu yang benar-benar digunakan untuk menangani kejahatan serius.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook