Taiz, Yaman – Kota terbesar ketiga di Yaman, Taiz, kini berada di ambang krisis kemanusiaan total setelah tiga pekan terkepung. Akses jalan darat yang terputus membuat harga kebutuhan pokok melonjak lebih dari dua kali lipat, sementara pasokan air bersih anjlok hingga 50 persen. Warga sipil, termasuk anak-anak, terpaksa bertahan hidup dengan menu seadanya dan memasak menggunakan kayu bakar karena kelangkaan gas.
Kisah pilu datang dari Yousef Farhan (39), ayah empat anak yang mengungsi sejak bertahun-tahun lalu. Dulu, ia bisa membeli gas dan makanan bervariasi dari hasil berjualan timun. Kini, sekolah tempatnya tinggal tutup akibat pengeboman, dan sumber penghasilannya lenyap. "Seharian kami hanya makan nasi atau kacang," ujarnya. Kondisi ini diperparah dengan terputusnya jalur logistik utama Taiz-Al-Turbah-Aden akibat penguasaan wilayah oleh Houthi dan penutupan perbatasan oleh pasukan pemerintah, membuat bantuan kemanusiaan PBB terhambat.
Dampak sosialnya sangat luas: anak-anak kehilangan akses pendidikan dan ruang bermain karena orang tua khawatir akan keselamatan mereka. Biaya sewa, air tangki, dan pangan melonjak drastis, memaksa keluarga seperti milik Sayyun Burhan (40) hidup dari hari ke hari tanpa kepastian. Tanpa intervensi segera, jutaan warga Taiz berisiko mengalami kelaparan dan wabah penyakit akibat sanitasi yang memburuk.