Kamp Al-Hol di Suriah, yang sebelumnya menjadi rumah bagi ribuan orang yang terkait dengan ISIL (ISIS), kini nyaris kosong. Sebuah laporan mengejutkan menyebutkan, populasinya anjlok drastis dari sekitar 24.000 jiwa menjadi hanya ribuan saja dalam beberapa bulan terakhir. Keberadaan ribuan penghuni yang tiba-tiba "lenyap" ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan kemanusiaan dan keamanan internasional.
Fenomena hilangnya ribuan orang ini terjadi pasca-penarikan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dari wilayah timur laut negara itu pada Januari lalu. SDF, yang didukung AS, sebelumnya mengelola kamp ini setelah berhasil mengalahkan ISIL di Suriah pada 2019 dan menjadi penampungan terbesar bagi mereka yang dicurigai terkait kelompok teror tersebut. Kini, kendali kamp berpindah ke tangan pemerintah Suriah. Transisi ini diwarnai kekacauan, memicu eksodus massal yang metodenya masih diselimuti misteri.
Sumber-sumber kemanusiaan, diplomatik, dan lokal menyebut, sebagian besar warga Suriah yang tadinya mengungsi di Al-Hol kini telah kembali ke kampung halaman mereka. Sementara itu, banyak warga asing yang sebelumnya dicurigai memiliki kaitan dengan ISIL, dikabarkan bergerak menuju ke barat, ke wilayah yang dikuasai pemerintah seperti Idlib atau Aleppo. Namun, cara mereka keluar dari kamp masih simpang siur. Ada laporan yang menyebut mereka diarahkan naik bus oleh pihak yang tidak jelas, sementara lainnya menceritakan bagaimana warga menerobos keluar kamp tanpa bisa dihentikan penjaga. Tak sedikit pula yang diselundupkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab, memanfaatkan kekosongan kendali.
Kondisi serah terima yang kacau ini berdampak serius. Organisasi kemanusiaan terpaksa menghentikan operasinya di kamp Al-Hol karena kondisi yang tidak kondusif pasca-penarikan SDF dan upaya pemerintah untuk memulihkan keamanan. Situasi ini memicu kekhawatiran mendalam dari para analis, diplomat, dan pekerja kemanusiaan mengenai isu keamanan dan hak asasi manusia. Ribuan jiwa yang "hilang" ini menyisakan pertanyaan besar: apakah mereka aman, atau justru terjebak dalam masalah baru?
Kamp Al-Hol, yang pernah menampung hingga 73.000 jiwa di puncaknya pada 2019, adalah simbol kompleksitas konflik Suriah dan penanganan para korban serta terduga terkait kelompok teror. Ketidakjelasan nasib ribuan mantan penghuninya ini bisa menjadi bom waktu. Jika tidak ditangani dengan mekanisme yang transparan dan humanis, potensi radikalisasi ulang atau eksploitasi oleh kelompok-kelompok bersenjata akan sangat tinggi. Dunia internasional mendesak pemerintah Suriah untuk segera memberikan kejelasan dan memastikan keselamatan serta hak-hak dasar para pengungsi ini tetap terpenuhi.