Dunia jurnalisme internasional berduka. Ori Goldberg, seorang akademisi asal Israel yang dikenal sebagai analis independen dan kontributor rutin Al Jazeera, meninggal dunia pada usia 50 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh keluarganya melalui akun media sosial X milik mendiang pada hari Minggu.
Goldberg menghembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan kanker usus besar yang dideritanya cukup lama. Dalam pernyataan yang menyentuh, putri sulungnya, Avigail, mengenang ayahnya sebagai sosok yang luar biasa. "Dalam satu kalimat, dia adalah ayah terbaik di dunia. Tapi Anda tidak bisa menggambarkannya hanya dalam satu kalimat," tulisnya. Sementara itu, putranya, Dave, menyebut sang ayah sebagai cahaya di saat keadaan tampak gelap.
Selama hidupnya, Goldberg dikenal luas lewat tulisan-tulisan opini tajamnya yang fokus pada isu Timur Tengah. Analisisnya sering menyoroti dinamika politik dan sosial di Israel. Dalam tulisannya yang berjudul 'Israel is imploding' pada Desember 2025, ia menyoroti bagaimana negara dan masyarakat Israel menjadi semakin disfungsional, serta bagaimana koalisi internasional yang dipimpin AS mulai menggeser kontrol Israel atas Gaza. Ia juga sempat menulis analisis kontroversial soal peluang Netanyahu memenangkan pemilu 2026, menyebut sang PM sebagai sosok yang berani melawan musuh-musuh Israel.
Kepergian Goldberg meninggalkan luka mendalam bagi dunia akademik dan media. Selain aktif menulis, ia juga sering tampil sebagai narasumber di berbagai program berita Al Jazeera English. Pria bergelar PhD Sejarah dari Universitas Tel Aviv ini juga pernah menerima beasiswa bergengsi Mellon Foundation. Bagi masyarakat luas, karya-karya Goldberg telah menjadi jendela penting untuk memahami kompleksitas konflik dan politik di Timur Tengah dari kacamata seorang akademisi Israel yang kritis.