Washington, DC - Menjelang pemilu sela Amerika Serikat, Presiden Donald Trump berupaya mengalihkan kesalahan atas lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang meroket. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyalahkan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta penutupan kilang di negara bagian yang dikuasai Partai Demokrat, seperti California, sebagai penyebab utama mahalnya harga bensin saat ini.
Klaim Trump tersebut menuai pertanyaan karena data menunjukkan ekspor harian melalui Selat Hormuz justru anjlok 97 persen sejak konflik AS-Israel vs Iran dimulai. Kondisi ini yang sebenarnya membuat pasokan global tersendat. Harga rata-rata bensin di AS kini mencapai $4,36 per galon, naik tajam dibandingkan $2,98 pada akhir Februari lalu.
Untuk meredam lonjakan, negara-negara G7 sepakat melepas 100 juta barel minyak dari cadangan darurat. Namun, cadangan minyak strategis AS (SPR) dilaporkan berada di titik terendah sejak 1982. Serangan Ukraina yang mengklaim telah melumpuhkan lebih dari setengah kapasitas kilang Rusia turut memperparah krisis, terutama untuk pasokan diesel yang turun 30 persen dalam 18 bulan terakhir.
Dampak bagi Masyarakat: Bagi warga Indonesia, kenaikan harga minyak global ini menjadi alarm bahaya. Sebagai negara importir minyak, fluktuasi harga dunia bisa memicu kenaikan harga bahan pokok dan transportasi domestik jika pemerintah tidak segera melakukan mitigasi. Ketegangan geopolitik yang berlarut-larut di Timur Tengah dan Eropa berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional, terutama terkait subsidi energi dan inflasi.