MADRID - Lanskap politik Spanyol sedang menghadapi titik balik yang krusial. Pemilu kilat (snap election) yang dijadwalkan pada 29 November mendatang berpotensi besar mengembalikan kekuatan sayap kanan keras ke kursi pemerintahan untuk pertama kalinya sejak era diktator Francisco Franco berakhir pada 1975.
Survei terbaru dari harian terkemuka El Pais menunjukkan bahwa koalisi antara Partai Rakyat (PP) yang konservatif dan partai sayap kanan Vox diprediksi akan mengamankan 198 kursi di parlemen. Angka ini jauh melampaui ambang batas mayoritas parlemen yang hanya membutuhkan 176 kursi. Dukungan terhadap Vox dilaporkan melonjak dua kali lipat dibandingkan pemilu 2023, didorong oleh sentimen anti-imigran dan semangat pemberontakan kaum muda terhadap politik arus utama.
Situasi ini menempatkan Perdana Menteri petahana, Pedro Sanchez, dalam posisi terjepit. Partai Buruh Sosialis (PSOE) miliknya diprediksi hanya mampu meraih 112 kursi, turun dari 121 kursi pada tiga tahun lalu. Jika koalisi PP-Vox terwujud, Sanchez harus rela lengser, menandai berakhirnya salah satu pemerintahan sayap kiri terakhir yang tersisa di Eropa di tengah gelombang populisme yang melanda benua tersebut.
Analisis Dampak: Kemenangan Vox tidak hanya mengubah peta politik domestik Spanyol, tetapi juga menjadi sinyal pergeseran besar di Eropa. Bagi masyarakat Spanyol, kebijakan imigrasi akan menjadi isu paling sensitif yang berpotensi memecah belah opini publik. Selain itu, gaya politik Vox yang sering dianggap 'dog whistle' terhadap warisan diktator Franco dikhawatirkan akan mengikis nilai-nilai demokrasi liberal yang telah lama dijunjung Spanyol. Dunia internasional juga menaruh perhatian besar, mengingat Spanyol adalah ekonomi terbesar keempat di zona Euro; ketidakstabilan politik di Madrid bisa berdampak pada kebijakan fiskal dan hubungan luar negeri Uni Eropa.