Asmara, Ethiopia — Pemerintah Eritrea secara tegas membantah klaim bahwa pasukan mereka bergerak memasuki wilayah Tigray, Ethiopia utara. Bantahan ini muncul setelah milisi pro-pemerintah Ethiopia, Tigray Peace Force (TPF), menuduh tentara Eritrea terlibat dalam konflik dan mengalami kerugian besar.
Juru bicara TPF, Solomon Hailemariam, sebelumnya menyatakan bahwa pasukan Eritrea telah mundur ke arah perbatasan setelah menderita korban jiwa yang signifikan. Namun, Menteri Informasi Eritrea, Yemane Gebremeskel, menyebut tuduhan tersebut sebagai informasi palsu. Hingga kini, jumlah korban yang dilaporkan belum dapat diverifikasi secara independen.
Organisasi pemantau konflik independen, ACLED, mencatat bahwa pasukan pemerintah Ethiopia bersama TPF telah memasuki kota bersejarah Aksum. Sementara itu, pasukan Eritrea dilaporkan mundur melintasi perbatasan melalui Zalambessa seiring majunya pasukan Ethiopia ke sejumlah kota strategis.
Seorang warga Zalambessa, Selam, mengungkapkan kondisi mencekam di wilayah tersebut. "Kami terjepit di tengah dan hidup dalam kecemasan mendalam," ujarnya. Kota itu dilaporkan telah sepekan tanpa listrik dan air bersih, meski saat ini tidak ada pertempuran aktif.
Ketegangan semakin memanas setelah ACLED mendokumentasikan pergerakan tank dan senjata berat Ethiopia menuju perbatasan Eritrea pada Selasa lalu. Hal ini memicu kekhawatiran akan konfrontasi terbuka antara kedua negara tetangga tersebut.
Addis Ababa menuduh Eritrea, Sudan, dan Mesir mendukung aliansi pemberontak yang memerangi pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed. Eritrea membalas dengan menuduh Ethiopia mengancam kedaulatan mereka, dan memutuskan hubungan diplomatik pada awal bulan ini. Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyerukan de-eskalasi dalam panggilan telepon dengan PM Abiy, menyusul laporan potensi bentrokan tersebut.