Kanada dan Uni Emirat Arab (UEA) resmi menandatangani perjanjian perdagangan komprehensif (CEPA) pada Selasa (25/2). Kesepakatan ini bertujuan memangkas tarif, mengurangi birokrasi, dan membuka akses pasar lebih luas bagi pelaku usaha di kedua negara.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, untuk memperluas jaringan dagang ke luar Amerika Serikat. Ketegangan dagang dengan Washington yang dipicu kebijakan tarif Presiden Donald Trump membuat Ottawa agresif menjalin pakta dengan negara di Asia Pasifik, Eropa, dan Timur Tengah.
Menurut Kantor PM Kanada, CEPA akan menghapus atau mengurangi tarif pada lebih dari 99 persen ekspor Kanada ke UEA. Petani, produsen mesin industri, hingga sektor kedirgantaraan Kanada diproyeksikan jadi penerima manfaat utama. Perjanjian ini juga menargetkan hambatan non-tarif dan diprediksi berlaku penuh pada 2027.
Selain CEPA, kedua negara menandatangani kesepakatan awal soal energi, diplomasi, dan pertahanan. Menteri Perdagangan Luar Negeri UEA, Thani bin Ahmed Al Zeyoudi, menyebut ada potensi besar di sektor logistik, komunikasi, teknologi, dan manufaktur. Nilai perdagangan dua arah tahun lalu mencapai CA$3,5 miliar (sekitar Rp40 triliun) dan tumbuh 10 persen per tahun. UEA juga berkomitmen menanamkan investasi hingga US$50 miliar di Kanada.
Analisis dampak: Bagi masyarakat Kanada, kesepakatan ini membuka peluang kerja dan stabilitas ekonomi di tengah tekanan tarif AS. Sementara bagi konsumen di kedua negara, harga barang impor berpotensi turun karena pemangkasan tarif. Namun, implementasi baru efektif 2027, sehingga dampak nyata belum terasa dalam waktu dekat. Di sisi lain, langkah Carney menjauh dari AS bisa memicu reaksi balik dari Washington yang perlu diantisipasi.