RUMBEK, SUDAN SELATAN — Gelombang kekerasan antarkomunitas kembali mengguncang Sudan Selatan. Sedikitnya 71 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan sengit yang melanda Kota Rumbek, Negara Bagian Lakes, menurut pernyataan pemerintah sementara.
Insiden ini bermula ketika sekelompok orang dari luar wilayah Rumbek mencoba mengambil alih kendali kota. Menurut laporan saksi mata, kelompok penyerang sempat menguasai kota untuk sementara waktu sebelum akhirnya mundur setelah pasukan polisi dan militer dikerahkan sebagai bala bantuan.
"Berdasarkan laporan keamanan awal, sekitar 71 orang dilaporkan tewas," ujar Kementerian Informasi Sudan Selatan dalam pernyataannya, Jumat (27/9). Angka tersebut termasuk empat personel tentara. Namun, pihak berwenang mengakui bahwa jumlah korban pasti masih dalam proses verifikasi.
Situasi keamanan di Rumbek kini dilaporkan telah kembali kondusif. Pemerintah menyatakan bahwa kota tersebut saat ini berada di bawah kendali penuh pasukan keamanan negara, dan upaya pemulihan kondisi normal terus dilakukan.
Pemerintah sementara dengan tegas mengutuk kekerasan ini dan mendesak seluruh komunitas untuk menahan diri serta menghindari tindakan balasan yang dapat memicu eskalasi ketegangan lebih lanjut.
Analisis & Konteks: Insiden ini terjadi di tengah masa transisi politik yang rapuh. Pada 22 September lalu, Presiden Salva Kiir membubarkan pemerintahan transisi, tiga bulan sebelum pemilu pertama negara itu sejak merdeka pada 2011. Keputusan ini mengakhiri kesepakatan bagi hasil kekuasaan yang dibentuk berdasarkan perjanjian damai 2018 — sebuah kesepakatan yang sebelumnya berhasil menghentikan perang saudara selama lima tahun yang menewaskan sekitar 400.000 jiwa.
Sayangnya, konflik antarkomunitas terus berlanjut di berbagai wilayah Sudan Selatan. Pada 17 September, 26 orang tewas dan 82 lainnya luka-luka dalam pertempuran di wilayah sengketa perbatasan dengan Sudan. Sementara pada awal Maret, kekerasan antarkomunitas menewaskan sedikitnya 169 orang setelah puluhan pria bersenjata menyerang sebuah kota.
Bagi masyarakat Sudan Selatan, eskalasi kekerasan ini menimbulkan kekhawatiran mendalam menjelang pemilu. Ketidakstabilan keamanan berpotensi menghambat proses demokrasi dan memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama di negara termuda di dunia tersebut.