Kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat terus meningkat drastis sejak Oktober 2023. Data dari Komisi Perlawanan Kolonialisasi dan Tembok (PLO) mencatat lebih dari 14.700 serangan terjadi hingga awal Oktober 2026, dengan lonjakan 63 persen pada tujuh bulan pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Serangan tersebut merusak properti, membakar kendaraan, hingga mengancam keselamatan warga sipil.
Kondisi ini memaksa warga Palestina, seperti Abdul Rahman Jabr (32), mengambil langkah mandiri untuk melindungi keluarganya. Rumahnya di desa al-Mughayyir, Ramallah, yang seharusnya menjadi tempat tinggal aman, justru kerap menjadi sasaran pelemparan batu dan pembakaran. Ia terpaksa memasang kawat berduri dan pagar besi sebagai benteng pertahanan terakhir karena tidak ada perlindungan dari pihak berwenang.
Fenomena serupa juga terjadi di kota Sinjil. Sekelompok pemuda setempat membentuk komite penjaga lingkungan swasta yang bertugas mengawasi titik-titik rawan serangan pemukim setiap malam. Namun, upaya pertahanan sipil ini menuai risiko tinggi; tentara Israel dilaporkan telah menangkap enam anggota komite dan melukai belasan lainnya dalam upaya membubarkan pos jaga tersebut.