Dunia sepak bola Inggris kembali digegerkan dengan cerita dongeng yang berakhir mimpi buruk bagi tim raksasa. Arsenal, sang juara bertahan Premier League, harus tersingkir dari ajang League Cup (Carabao Cup) setelah kalah adu penalti 5-3 dari Fleetwood Town, klub yang bermain di kasta keempat (League Two). Laga yang berakhir imbang 1-1 hingga waktu normal itu menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah kompetisi sepak bola Inggris.
Kekalahan ini bukan sekadar insiden tunggal. Sejarah mencatat berbagai 'pembantaian' serupa yang dilakukan tim kecil terhadap raksasa. Pada musim 1991-92, Arsenal juga pernah dipermalukan Wrexham yang saat itu berada 90 peringkat di bawah mereka. Gol telat Steve Watkin menjadi mimpi buruk bagi The Gunners saat itu. Contoh lainnya terjadi pada 2015, ketika Chelsea asuhan Jose Mourinho yang sedang perkasa harus takluk 2-4 dari Bradford City di Stamford Bridge, meski sempat unggul 2-0 lebih dulu.
Bagi masyarakat dan penggemar sepak bola, fenomena ini adalah bukti nyata bahwa keajaiban dalam sepak bola itu ada. Kemenangan tim underdog atas raksasa memberikan hiburan tersendiri, membuktikan bahwa status sosial dan kekayaan klub tidak menjamin kemenangan di lapangan. Ini adalah pengingat bahwa semangat juang dan taktik jitu bisa membalikkan keadaan, sekaligus menjadi pukulan telak bagi tim elit yang sering kali meremehkan lawan di kompetisi domestik.