Jakarta - Ketegangan di perairan Timur Tengah kembali memanas. Militer Amerika Serikat (AS) mengambil tindakan tegas dengan melumpuhkan sebuah kapal kargo komersial di Teluk Oman. Insiden ini terjadi karena awak kapal dianggap mengabaikan peringatan berulang dan nekat mencoba menerobos blokade laut yang diberlakukan AS terhadap Iran.
Menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM), jet tempur militer AS meluncurkan amunisi presisi ke bagian buritan kapal berbendera Panama, M/V Ocean Molica (juga dikenal sebagai Arika Sun), pada Sabtu lalu. Serangan ini sukses melumpuhkan sistem propulsi kapal tanpa menimbulkan korban jiwa di pihak awak. Kapal tersebut sebelumnya terdeteksi berlayar dari pelabuhan Iran dan berusaha melintasi perairan regional.
Operasi ini merupakan bagian dari penegakan blokade ketat yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. CENTCOM melaporkan bahwa pihaknya telah melumpuhkan empat kapal komersial dan memaksa 135 kapal lainnya berbalik arah. Selain itu, AS juga menghancurkan 10 kapal tanker yang dikaitkan dengan jaringan bayangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Di sisi lain, IRGC membalas dengan mengklaim telah menguasai administrasi Selat Hormuz. Mereka mengaku menyerang kapal pengangkut gas LPG raksasa bernama NV Sunshine yang dianggap melintas di rute ilegal. Badan Keselamatan Maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan sebuah tanker terkena proyektil misterius yang memicu kebakaran, meski seluruh awak dilaporkan selamat.
Analisis Dampak: Insiden ini mempertegas risiko tinggi bagi pelayaran internasional di Selat Hormuz, jalur laut vital yang mengangkut seperlima kebutuhan minyak dan gas dunia. Eskalasi konflik ini berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global dan meningkatkan premi asuransi pelayaran, yang pada akhirnya bisa memicu kenaikan harga energi di tingkat konsumen.