Jakarta, Media Online – Sebuah fakta baru muncul dalam kasus hukum Huawei di Amerika Serikat. Hakim federal AS memutuskan bahwa pengakuan Chief Financial Officer (CFO) Huawei, Meng Wanzhou, tentang aktivitas ilegal perusahaan di Iran bisa digunakan sebagai alat bukti dalam persidangan melawan perusahaan teknologi China tersebut.
Keputusan ini tertuang dalam dokumen pengadilan di Brooklyn, New York, pada Selasa (3/9/2024). Pada tahun 2021, Meng Wanzhou mengaku berbohong kepada lembaga keuangan terkait kepatuhan Huawei terhadap sanksi dan hukum kontrol ekspor AS terhadap Iran. Pengakuan itu merupakan bagian dari kesepakatan untuk membatalkan tuntutan pidana yang dihadapinya.
Dalam pernyataan setebal empat halaman, Meng mengakui bahwa Huawei telah melakukan bisnis di Iran secara ilegal. Hakim Distrik AS, Ann Donnelly, menolak argumen Huawei yang menyatakan bahwa pengakuan CFO mereka tidak bisa digunakan karena perusahaan berhak untuk tetap diam. "Meng adalah — dan masih — CFO Huawei Tech. Huawei Tech tidak boleh keberatan jika pernyataan eksekutif seniornya tentang perilakunya terkait pekerjaannya digunakan di pengadilan," tulis Hakim Donnelly dalam putusannya.
Kasus ini bermula dari penangkapan Meng Wanzhou di Vancouver, Kanada, pada tahun 2018 atas permintaan AS. Ia dituduh melakukan penipuan bank karena menyesatkan HSBC dan bank lain tentang bisnis Huawei di Iran. Setelah menjalani tahanan rumah hampir tiga tahun di Kanada, Meng akhirnya dibebaskan pada 2021 melalui kesepakatan penangguhan tuntutan. Kesepakatan itu juga memicu pembebasan dua warga Kanada yang ditahan China dan dua warga AS yang dilarang keluar negeri.
Analisis Dampak: Putusan ini menjadi pukulan telak bagi Huawei. Bukti dari petinggi perusahaan sendiri bisa memperkuat tuduhan pelanggaran sanksi dan spionase ekonomi yang selama ini dialamatkan ke Huawei. Jika kalah, Huawei berpotensi menghadapi denda miliaran dolar dan larangan operasi yang lebih ketat di pasar AS. Di sisi lain, langkah ini juga bisa memanaskan kembali ketegangan dagang AS-China, terutama di tengah persaingan teknologi AI dan chip semikonduktor. Sidang dengan juri dijadwalkan mulai 8 September 2024.