SEJUTA MUTINY GUNCANG INDIA, MODI TERJEPIT - Berita Dunia
← Kembali

SEJUTA MUTINY GUNCANG INDIA, MODI TERJEPIT

Foto Berita

NEW DELHI — Gelombang protes besar-besaran kembali mengguncang India. Mahasiswa dan partai oposisi di berbagai kota turun ke jalan, menyatukan berbagai keluhan yang sebelumnya terpisah menjadi satu gerakan besar menantang kekuasaan yang dinilai tidak akuntabel.

Di New Delhi, aksi unjuk rasa bertajuk pembangkangan sipil non-kekerasan digelar bertepatan dengan peringatan kelahiran Mahatma Gandhi. Massa yang menamakan diri pendukung "Cockroach Janta Party" (CJP) menuntut pengunduran diri Komisioner Pemilihan Umum India (CEC) Gyanesh Kumar. Kumar dituduh memanipulasi daftar pemilih untuk menguntungkan partai berkuasa Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.

Protes tidak hanya soal pemilu. Di Delhi, mahasiswa dan komunitas queer menuntut keadilan atas kasus dugaan pemerkosaan berkelompok terhadap seorang remaja putri berusia 17 tahun di Taman Aastha Kunj. Tiga pelaku disebut menyamar sebagai polisi.

Sementara itu di Mumbai, orang tua Sahil Wakode, mahasiswa tahun kedua IIT Bombay yang meninggal akibat bunuh diri, memulai aksi mogok makan tanpa batas. Mereka menuntut penangkapan oknum dosen yang diduga melakukan perundungan berbasis kasta.

Di Pune, para pencari kerja yang mengikuti ujian Komisi Pelayanan Publik Maharashtra (MPSC) juga turun ke jalan. Mereka menuntut ketua komisi mundur lantaran dugaan kecurangan ujian, masalah transparansi, dan ketidakpastian hasil ujian.

Analisis: Konvergensi protes yang sebelumnya terpisah-pisah ini menjadi sinyal bahaya bagi pemerintahan Modi. Generasi Z yang sebelumnya terfragmentasi kini menemukan titik temu untuk bersatu melawan pemerintah pusat. Oposisi pun kembali menemukan energi baru sebagai kekuatan nasional. Yang lebih mengkhawatirkan, aksi-aksi ini terjadi saat Delhi Tengah dan sebagian Mumbai dikunci dengan keamanan ketat pada momen Gandhi Jayanti — sebuah ironi yang memperburuk citra pemerintah. Modi dinilai tidak lagi memerintah dengan legitimasi, melainkan dengan kekuatan dan rasa takut kehilangan kekuasaan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook