Ancaman krisis energi global mengemuka setelah mantan Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Jika tidak, AS mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik di Iran. Namun, Teheran tak gentar, justru balik mengancam akan menargetkan pembangkit listrik di Israel dan negara-negara Teluk jika fasilitas mereka diserang.
Ultimatum yang disampaikan Trump melalui platform Truth Social ini, mulanya dijadwalkan berakhir pada Senin pukul 23:44 GMT. Menariknya, pada hari yang sama, Trump sempat mengklaim adanya “percakapan yang sangat baik dan produktif” antara Washington dan Teheran untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Namun, klaim ini dengan tegas dibantah oleh para pejabat Iran, yang menyatakan tidak ada negosiasi sedang berlangsung dan Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang.
Kondisi ini makin memperkeruh ketegangan yang telah berlangsung selama tiga minggu, menyusul apa yang disebut sebagai 'perang AS-Israel di Iran'. Sebelumnya, pada 2 Maret lalu, Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur yang sangat krusial karena dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia dari produsen-produsen di Teluk. Penutupan ini menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak global, yang kini melampaui $100 per barel, jauh di atas harga Brent crude pra-perang yang berkisar $65.
Jika ancaman AS menjadi kenyataan, beberapa pembangkit listrik besar Iran, seperti Pembangkit Listrik Siklus Gabungan Damavand (Pakdasht) dengan kapasitas 2.900 megawatt, atau pembangkit di Kerman (1.910 MW) dan Ramin (1.890 MW), bisa menjadi sasaran. Serangan terhadap infrastruktur vital ini tidak hanya akan melumpuhkan pasokan listrik bagi jutaan penduduk, tetapi juga berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut, mengingat IRGC telah bersumpah akan membalas dengan menargetkan pembangkit listrik di Israel dan sekutunya.
Dampak domino dari situasi ini sangat nyata bagi masyarakat dunia. Kenaikan harga minyak secara langsung akan memukul ekonomi global, meningkatkan biaya transportasi, harga kebutuhan pokok, dan menekan daya beli masyarakat. Selain itu, potensi instabilitas di Timur Tengah dapat mengganggu rantai pasokan global lebih jauh, memperparah krisis energi yang telah diperingatkan oleh kepala IEA sebagai “sangat parah”. Ini bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi dan energi global.