Delapan negara dari kawasan Timur Tengah dan Asia, termasuk Indonesia, menyatakan kesiapan mereka untuk bergabung dengan 'Dewan Perdamaian' bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah ini diharapkan bisa mewujudkan gencatan senjata permanen dan mendukung rekonstruksi di Jalur Gaza, wilayah Palestina yang terus digempur.
Kementerian luar negeri Pakistan, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Turki, Arab Saudi, dan Qatar menyampaikan pernyataan bersama pada Rabu. Mereka menegaskan dukungan terhadap upaya perdamaian yang dipimpin Trump. Misi utama dewan ini adalah mengonsolidasikan gencatan senjata, membantu pembangunan kembali Gaza, serta mendorong perdamaian yang adil dan langgeng. Perdamaian itu harus berlandaskan hak Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan membentuk negara, sesuai dengan hukum internasional, demi keamanan dan stabilitas di seluruh kawasan.
Pengumuman ini muncul beberapa hari setelah Gedung Putih memperkenalkan susunan 'Dewan Perdamaian'. Ini merupakan bagian dari rencana 20 poin Trump untuk mengakhiri perang Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Dewan tersebut nantinya akan mengawasi sebuah komite teknokratik Palestina yang bertugas mengelola urusan sehari-hari di Jalur Gaza. Anggota dewan sendiri mencakup penasihat senior Trump seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner, serta mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.
Namun, rencana ini bukan tanpa keraguan. Warga Palestina di Gaza, yang masih terus menghadapi serangan militer mematikan Israel dan pembatasan bantuan kemanusiaan, mempertanyakan bagaimana mekanisme pimpinan AS ini akan berjalan di lapangan. Para pengamat juga menyuarakan kekhawatiran atas masuknya beberapa pendukung kuat Israel ke dalam 'Dewan Perdamaian' tersebut, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Kantor Netanyahu, yang menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Kriminal Internasional atas dugaan kejahatan perang di Gaza, pada Rabu menyatakan ia akan turut serta dalam mekanisme ini. Abu Ramzi al-Sandawi, seorang warga Gaza, terang-terangan menolak kehadiran Netanyahu, mengecam PM Israel itu sebagai 'pemimpin perang di Gaza.' 'Dia menghancurkan seluruh dunia kami,' kata al-Sandawi kepada Al Jazeera di Kota Gaza. 'Sudah jelas Netanyahu penyebab perang ini.'
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina di wilayah itu, setidaknya 466 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Gaza sejak gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku Oktober lalu.