ALASAN UPS PANGKAS 30.000 KARYAWAN: INI FAKTA! - Berita Dunia
← Kembali

ALASAN UPS PANGKAS 30.000 KARYAWAN: INI FAKTA!

Foto Berita

Raksasa pengiriman paket global, United Parcel Service (UPS), membuat gebrakan yang menggegerkan dunia kerja. Mereka berencana memangkas hingga 30.000 karyawan dan menutup puluhan fasilitas dalam rangka mencapai target penghematan ambisius $3 miliar pada tahun 2026. Keputusan ini bukan sekadar angka, melainkan bagian dari strategi besar untuk menggenjot keuntungan dan mengurangi ketergantungan pada klien raksasa seperti Amazon. Lantas, apa saja poin penting di balik langkah drastis UPS ini?

Pengumuman ini datang langsung dari CFO UPS, Brian Dykes, dalam rapat pendapatan perusahaan. Pemangkasan karyawan akan dilakukan secara bertahap, umumnya melalui program pengunduran diri sukarela dan pensiun dini bagi pengemudi penuh waktu. Tak hanya itu, UPS juga akan menutup 24 bangunan operasionalnya di paruh pertama tahun ini, dengan kemungkinan lebih banyak lagi di paruh kedua. Langkah efisiensi ini merupakan kelanjutan dari penghematan $3,5 miliar yang sudah dicapai pada tahun 2025, termasuk pengurangan jam kerja signifikan dan penutupan 93 fasilitas.

Inti dari strategi ini adalah pergeseran fokus. UPS ingin lebih berkonsentrasi pada pengiriman dengan volume lebih kecil namun margin keuntungan yang lebih tinggi, alih-alih melayani volume besar dari satu klien dominan. Sebelumnya, UPS telah mengurangi separuh pengiriman untuk Amazon. Target pendapatan UPS sendiri diproyeksikan mencapai $89,7 miliar pada tahun 2026, naik dari $88,7 miliar di tahun 2025.

Tentu saja, keputusan ini menuai reaksi keras. Sean O’Brien, Presiden serikat pekerja Teamsters, melontarkan kecaman pedas. Ia menyebut manajemen UPS sebagai "pemakan modal" yang dengan enteng menawarkan program buyout yang "menghina." O’Brien mengingatkan bahwa para pengemudi Teamsters telah bekerja keras di segala cuaca ekstrem demi keuntungan miliaran dolar bagi UPS, dan menuntut perusahaan untuk menghormati kontrak serta menghargai anggota mereka.

Langkah PHK massal dan penutupan fasilitas oleh UPS ini bukan sekadar isu internal perusahaan. Ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri logistik global. Pasca-pandemi, di mana permintaan pengiriman melonjak drastis, kini banyak perusahaan berupaya "menyesuaikan ukuran" operasional mereka. Perusahaan logistik besar seperti UPS harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang berfluktuasi, kenaikan biaya operasional, dan tekanan untuk menjaga profitabilitas. Bagi masyarakat, khususnya pekerja, ini menjadi sinyal ketidakpastian di sektor yang vital. Sementara bagi konsumen, fokus pada "pengiriman yang lebih menguntungkan" bisa jadi berujung pada perubahan layanan atau biaya untuk jenis pengiriman tertentu di masa depan. Keputusan UPS ini juga bisa mendorong kompetitor lain untuk mengevaluasi strategi mereka, menciptakan dinamika baru di pasar pengiriman paket global.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook