Setelah terhenti lebih dari dua tahun akibat konflik berkepanjangan, Bandara Internasional Khartoum, Sudan, akhirnya kembali menyambut penerbangan komersial terjadwal. Pesawat Sudan Airways dari Port Sudan tiba pada Minggu lalu, membawa puluhan penumpang dan sejuta harapan akan kembalinya denyut kehidupan di ibu kota yang sempat lumpuh.
Penerbangan Sudan Airways tersebut berangkat dari Port Sudan, kota di Laut Merah yang sempat menjadi markas pemerintahan darurat Sudan. Ini menjadi penanda penting bahwa pemerintah Sudan kini semakin mengukuhkan kendali mereka atas Khartoum setelah bertahun-tahun terjebak dalam pertempuran sengit. Pihak bandara bahkan menyatakan kesiapan untuk menerima hingga empat penerbangan setiap hari.
Maskapai Sudan Airways lewat pernyataannya menyebut, penerbangan yang tiketnya dibanderol mulai $50 ini “merefleksikan kembalinya semangat dan kelanjutan koneksi antar putra-putri bangsa.” Sebelumnya, bandara ini berkali-kali menjadi target serangan, termasuk gempuran drone dari kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pada Oktober lalu yang diklaim berhasil dicegat. Operasi penerbangan komersial terjadwal pun vakum sejak itu, kecuali sebuah penerbangan Badr Airlines yang tak diumumkan pada 22 Oktober.
Langkah ini juga menyusul kepindahan kembali markas pemerintahan Sudan dari Port Sudan ke Khartoum bulan lalu. Pengambilalihan kendali penuh atas ibu kota dari RSF telah diumumkan militer Sudan sejak Maret tahun lalu. Namun, perlu diingat bahwa perang di Sudan, yang pecah pada April 2023 antara militer pimpinan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan RSF pimpinan Mohamed Hamdan “Hemedti” Dagalo, masih jauh dari usai.
Konflik perebutan kekuasaan dan sumber daya ini telah meluluhlantakkan banyak kota, menewaskan puluhan ribu orang, dan memaksa jutaan lainnya mengungsi dari rumah mereka. Kekerasan masih berkecamuk di Sudan tengah dan barat, khususnya di Darfur, memicu krisis kemanusiaan dan gelombang pengungsian massal yang mengerikan. Juru bicara UNICEF, Eva Hinds, bahkan menggambarkan betapa sulitnya menjangkau anak-anak di Darfur, yang bisa memakan waktu berhari-hari untuk negosiasi dan perjalanan melintasi medan perang.
Dengan dibukanya kembali rute penerbangan komersial ini, Khartoum mungkin bisa mulai bernapas lega dan membangun kembali konektivitasnya. Namun, di saat yang sama, berita ini juga mengingatkan kita bahwa sebagian besar Sudan masih berjuang melawan bayang-bayang konflik dan krisis kemanusiaan yang mendalam. Ini bukan sekadar penerbangan, melainkan simbol kompleks harapan di tengah kenyataan pahit yang masih terjadi.