AMERIKA VS IRAN SEMAKIN PANAS, NEGOSIASI BARU BUNTU - Berita Dunia
← Kembali

AMERIKA VS IRAN SEMAKIN PANAS, NEGOSIASI BARU BUNTU

Foto Berita

Jakarta, CNN Indonesia — Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah saling serang terus berlanjut di tengah mandeknya perundingan damai. Teheran melancarkan serangan baru ke pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, sementara Washington terus menggempur lokasi-lokasi strategis di Iran.

Serangan terbaru Iran dilaporkan menyasar Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Di sisi lain, militer AS mengaku telah melancarkan gelombang serangan selama enam jam di beberapa titik untuk 'melumpuhkan kemampuan Iran mengancam pelaut tak berdosa' di Selat Hormuz. Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran untuk 'bersikap baik' atau menghadapi aksi militer lebih lanjut jika tidak kembali ke meja perundingan.

Trump bahkan mengancam akan menargetkan infrastruktur energi Iran. Namun, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan Teheran tidak punya alasan untuk mematuhi kesepakatan yang tidak menguntungkan mereka. Ia juga menekankan keamanan nasional Iran bergantung pada 'pengaturan Iran' di Selat Hormuz.

Dalam serangan terbaru, AS menargetkan pusat komando, pertahanan udara, dan fasilitas pengawasan pesisir Iran, termasuk di Bandar Abbas dan Pulau Greater Tunb. Ledakan terdengar di sejumlah kota dan pertahanan udara Iran diaktifkan. Sekutu AS di Teluk juga melaporkan serangan, di mana Kuwait berhasil mencegat serangan drone dan Bahrain meminta warganya tetap tenang serta berlindung.

Sebagai buntut, Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia—masih ditutup. AS kembali memberlakukan blokade di pelabuhan Iran yang sebelumnya dicabut berdasarkan nota kesepahaman bulan lalu. Kapal tanker minyak berbendera Curacao yang mencoba menuju pelabuhan Iran pun ditembak dan dilumpuhkan oleh AS. Sebagai respons, Garda Revolusi Iran memperingatkan akan menutup jalur ekspor minyak dan gas lain yang menjadi kepentingan AS dan sekutunya.

Analisis Dampak: Eskalasi ini jelas mengancam stabilitas ekonomi global. Harga minyak dunia dipastikan melonjak karena lalu lintas tanker di Selat Hormuz nyaris macet total. Jika konflik meluas, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak berpotensi merasakan dampak kenaikan harga BBM dan biaya logistik. Masyarakat harus bersiap menghadapi potensi gejolak harga energi dalam waktu dekat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook