Perdana Menteri Inggris Keir Starmer baru-baru ini angkat bicara mengenai tensi global, khususnya yang melibatkan Iran. Menurutnya, hasil asesmen rutin menunjukkan bahwa Inggris tidak menjadi target serangan dari Teheran. Namun, di balik jaminan tersebut, Starmer juga menyoroti pentingnya meredakan konflik dan koordinasi rencana terkait Selat Hormuz, jalur maritim vital yang jadi kunci perdagangan global.
Pernyataan Starmer ini muncul di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, di mana ketegangan antara berbagai pihak terus meningkat. Ini menjadi semacam penegas posisi Inggris yang mengutamakan keamanan nasional namun tetap berhati-hati terhadap dinamika geopolitik. Meskipun Inggris merasa aman dari ancaman langsung Iran, perhatian terhadap Selat Hormuz bukanlah tanpa alasan.
Selat sempit ini merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, menjadi pintu gerbang utama bagi sekitar sepertiga pasokan minyak dan seperempat gas alam cair (LNG) global yang diangkut via laut, dari produsen utama di Teluk Persia ke pasar internasional. Jika terjadi pembatasan atau gangguan signifikan di Selat Hormuz, dampaknya bisa sangat besar.
Harga energi global berpotensi melonjak drastis, mengganggu rantai pasok global, dan memicu ketidakpastian ekonomi di banyak negara, termasuk Inggris. Desakan Starmer untuk de-eskalasi dan rencana terkoordinasi menunjukkan kekhawatiran Inggris dan sekutunya terhadap potensi gejolak yang bisa merembet luas, tidak hanya pada stabilitas keamanan tetapi juga ekonomi dunia.
Analisis dari berbagai pengamat menyebut, pernyataan Starmer ini juga bisa dibaca sebagai upaya diplomatis untuk menenangkan publik domestik sekaligus menegaskan posisi Inggris dalam mendorong solusi damai, tanpa mengabaikan potensi risiko ekonomi yang bisa timbul dari krisis di kawasan. Ini adalah pesan ganda: jaminan keamanan sekaligus seruan kewaspadaan global.