MANIPULASI PETA POLITIK ANCAM SUARA KULIT HITAM - Berita Dunia
← Kembali

MANIPULASI PETA POLITIK ANCAM SUARA KULIT HITAM

Foto Berita

HOUSTON, TEXAS — Sebuah gereja Baptis di kawasan Sunnyside, Houston, yang selama dua dekade menjadi basis massa pendukung Partai Demokrat, mendadak harus menghadapi kenyataan pahit terkait peta daerah pemilihan (dapil) baru. Gereja Mount Hebron beserta komunitas kulit hitam di sekitarnya kini dipindahkan ke dapil ke-18 setelah Legislatif Negara Bagian Texas yang dikuasai Partai Republik melakukan redistricting (penataan ulang dapil) di tengah periode jabatan.

Langkah ini memicu kemarahan warga lokal. Pendeta Max Miller menilai proses tersebut sebagai upaya manipulasi dan monopoli suara untuk meminimalisasi representasi warga di parlemen. Kritikus menyebut praktik ini sebagai “cracking and packing”, sebuah taktik memecah belah suara komunitas minoritas dan menumpuknya di satu dapil agar kekuatan politik mereka melemah di dapil lain.

Dampak langsung dari penataan ulang ini sangat terasa. Kongresmen Al Green, yang telah lama menjadi suara warga kulit hitam di dapil ke-9, terpaksa harus bertarung melawan sesama politisi kulit hitam dari dapil ke-18, Christian Menefee, dalam pemilihan pendahuluan. Green pun kalah, membuat Houston kehilangan salah satu perwakilannya di Kongres. Sementara itu, dapil ke-9 yang sebelumnya dikuasai Demokrat kini diubah agar menguntungkan Partai Republik.

Warga yang telah lama setia pada Green, seperti Alice Jefferson (97), mengaku kecewa dengan perubahan ini. Ia menilai Green selalu memberikan nasihat yang baik bagi rakyat. Senada dengan itu, Janice Ray (61), seorang pengusaha, menegaskan bahwa penataan ulang ini tidak memiliki alasan yang jelas dan terkesan memindahkan orang dari daerah yang mereka kenal. Meski begitu, ia bersumpah warga akan tetap berdiri teguh dan yakin bahwa apa yang diubah bisa dikembalikan lagi.

Para ahli ilmu politik menilai proses redistricting musim pemilu ini telah merusak sistem perlindungan yang selama ini menjaga kekuatan suara minoritas. Praktik ini menjadi sorotan tajam karena dianggap mengikis hak demokrasi warga kulit hitam di Amerika Serikat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook