Kolombia dipastikan akan memiliki presiden baru setelah dua kandidat dengan latar belakang politik yang sangat bertolak belakang melaju ke putaran kedua. Senator sayap kiri Ivan Cepeda akan berhadapan dengan pendatang baru dari kelompok kanan ekstrem, Abelardo de la Espriella, pada 21 Juni mendatang.
Berdasarkan hasil penghitungan sementara, de la Espriella unggul tipis dengan perolehan suara 43 persen, unggul sekitar 600.000 suara dari Cepeda yang meraih 40 persen. Karena tidak ada yang mencapai 50 persen suara, pemilu harus dilanjutkan ke putaran kedua.
Kemenangan tipis de la Espriella ini cukup mengejutkan. Pasalnya, Cepeda sebelumnya konsisten memimpin survei, termasuk jajak pendapat CNC pada 24 Mei yang menunjukkan elektabilitasnya di atas 33 persen. Namun, isu keamanan yang mendominasi kekhawatiran pemilih justru menjadi 'senjata ampuh' bagi de la Espriella yang mengusung kampanye ala 'outsider', mirip dengan strategi Presiden Argentina Javier Milei.
Sementara itu, Cepeda adalah sosok yang sudah lama malang melintang di politik Kolombia. Ia adalah putra dari senator yang tewas dibunuh pada 1994. Kariernya diwarnai perseteruan sengit dengan mantan Presiden sayap kanan, Alvaro Uribe, yang dituduhnya terlibat dengan paramiliter. Kasus ini berujung pada penyelidikan dan vonis terhadap Uribe, meski akhirnya dibatalkan karena masalah prosedur.
Pertarungan dua kubu ini mencerminkan perpecahan mendalam di Kolombia terkait konflik internal yang sudah berlangsung selama enam dekade. Cepeda yang didukung Presiden petahana Gustavo Petro mendukung kebijakan 'Total Peace' alias perdamaian total melalui negosiasi. Sebaliknya, de la Espriella mewakili kelompok yang menginginkan pendekatan keamanan keras.
Analisis Dampak: Putaran kedua ini menjadi referendum bagi rakyat Kolombia: memilih pendekatan dialog dan perdamaian yang diusung Petro atau beralih ke pendekatan keamanan keras yang diusung de la Espriella. Hasilnya akan menentukan arah kebijakan luar negeri Kolombia, terutama hubungan dengan negara-negara tetangga dan Amerika Serikat. Jika de la Espriella menang, bisa dipastikan kebijakan 'Total Peace' akan dihentikan dan militer akan kembali menjadi ujung tombak pemberantasan kelompok bersenjata.