ETIOPIA-ERITREA MEMANAS, TIGRAY TERANCAM KONFLIK BARU! - Berita Dunia
← Kembali

ETIOPIA-ERITREA MEMANAS, TIGRAY TERANCAM KONFLIK BARU!

Foto Berita

Bayangan kelam perang kembali menyelimuti wilayah Tigray di utara Ethiopia. Belum pulih benar dari konflik brutal 2020-2022, kini warga setempat cemas menatap eskalasi ketegangan antara Ethiopia dan tetangganya, Eritrea. Kekhawatiran akan pecahnya konflik baru bukan isapan jempol, memicu trauma mendalam dan gelombang pengungsian lagi.

Situasi memanas setelah Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, pada awal Februari lalu menyatakan ambisi negaranya untuk memiliki akses ke Laut Merah. "Laut Merah dan Ethiopia tak bisa terpisah selamanya," tegas Abiy di hadapan parlemen. Pernyataan ini sontak memicu reaksi keras dari Eritrea, yang menuduh Addis Ababa berencana menginvasi dan merebut kembali Pelabuhan Assab—sebuah pelabuhan strategis di Laut Merah yang hilang dari Ethiopia sejak kemerdekaan Eritrea tahun 1993.

Tak hanya itu, Ethiopia juga menuding tentara Eritrea menduduki sebagian wilayah perbatasannya, seperti di kota Sheraro dan Gulomakada, serta mempersenjatai kelompok pemberontak di Tanduk Afrika. Tuntutan penarikan pasukan pun dilayangkan. Saling tuding ini membuat para pengamat khawatir, perang terbuka antara kedua negara adalah keniscayaan yang siap meletus kapan saja.

Bagi masyarakat Tigray, situasi ini adalah mimpi buruk yang berulang. Saba Gedion, perempuan 21 tahun yang pernah mengungsi dari kota Humera akibat perang 2020-2022, masih ingat betul kengeriannya. Anggota keluarganya tewas, sebagian diculik ke Eritrea. Kini, ia menyaksikan lagi warga berbondong-bondong meninggalkan Tigray, mencari aman ke wilayah Afar. "Konflik dan perang saudara berulang telah membuat kami seperti zombie, bukan lagi warga negara," keluhnya getir sambil berjualan kopi di Mekelle, ibu kota Tigray.

Kondisi Mekelle sendiri menggambarkan keputusasaan. Kota yang dulu ramai dengan pariwisata dan bisnis, kini sepi. Anak-anak muda terlihat sibuk mengurus visa atau mencari jalan keluar lewat penyelundup. Helen Gessese (36), pengungsi etnis Irob, salah satu kelompok minoritas yang teraniaya, tak bisa membayangkan penderitaan apa lagi yang akan menimpa daerah yang baru saja mencoba bangkit ini jika konflik meletus lagi.

Eskalasi ketegangan ini bukan sekadar friksi politik, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas regional dan kehidupan jutaan orang. Perang baru akan memperparah krisis kemanusiaan di wilayah yang sudah rentan, menciptakan lebih banyak pengungsian, dan menghambat segala upaya pembangunan pasca-konflik. Pertanyaannya, akankah dunia membiarkan Tanduk Afrika kembali terjebak dalam lingkaran setan kekerasan?


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook