Kinshasa - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kini telah menewaskan lebih dari 4.000 orang, menjadikannya epidemi terburuk dalam sejarah negara tersebut. Data pemerintah yang dirilis Jumat lalu menunjukkan angka kematian mencapai 4.018 jiwa, dengan total kasus terkonfirmasi menembus 8.300 di tujuh provinsi.
Krisis ini semakin rumit karena infrastruktur yang lemah, lokasi terpencil di wilayah timur DRC, serta konflik berkepanjangan dengan kelompok bersenjata di perbatasan Sudan Selatan, Uganda, dan Rwanda. Situasi makin memburuk setelah insiden pembakaran kamp transit pasien Ebola di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri. Aksi tersebut dilakukan oleh tentara yang sedang mencari senjata, memaksa 19.000 orang mengungsi dari kamp tersebut.
Selain hambatan geografis dan keamanan, resistensi masyarakat terhadap petugas kesehatan juga menjadi kendala besar. Ketidakpercayaan dan kemarahan warga memuncak, terlihat dari insiden tewasnya Marie-Celestin Karondwa, pejabat lokal partai berkuasa UDPS, yang dipukuli hingga tewas setelah menghadiri program radio untuk sosialisasi Ebola di Butembo.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah ini 'jauh dari kata selesai' dan berpotensi melampaui wabah Ebola Afrika Barat 2014-2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang. Saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk strain Bundibugyo yang menjadi penyebab wabah ini, meskipun beberapa uji klinis sedang berjalan. Meski begitu, ada kabar baik dengan lebih dari 2.000 pasien yang dinyatakan sembuh.