Amerika Serikat secara resmi memberi ultimatum kepada Ukraina dan Rusia: perang yang sudah berlangsung hampir empat tahun itu harus berakhir sebelum awal musim panas, tepatnya Juni nanti. Informasi mengejutkan ini diungkapkan langsung oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kepada media di Kyiv, Jumat lalu, dengan menyebut Washington kemungkinan besar akan menekan kedua pihak untuk patuh pada jadwal tersebut.
Tak hanya itu, Negeri Paman Sam juga mengusulkan putaran baru pembicaraan trilateral yang krusial, rencananya bakal digelar di Miami. Ukraina sendiri telah mengkonfirmasi kesiapannya untuk hadir, menandakan keseriusan Kyiv dalam mencari jalan keluar dari konflik berkepanjangan ini. Usulan ini muncul setelah pembicaraan serupa di Abu Dhabi sebelumnya tak banyak menghasilkan kemajuan berarti, menyisakan pekerjaan rumah besar bagi para diplomat.
Sejak awal, salah satu batu sandungan utama dalam negosiasi adalah tuntutan Rusia agar Ukraina menarik seluruh pasukannya dari wilayah Donbas timur yang kaya industri, meliputi Donetsk dan Luhansk. Wilayah ini menjadi episentrum pertempuran paling sengit. Namun, Kyiv dengan tegas menolak syarat tersebut, bahkan konstitusi Ukraina melarang penyerahan wilayah kedaulatan.
Di tengah kebuntuan politik, ada secercah harapan dari sisi kemanusiaan. Kedua belah pihak berhasil menyepakati pertukaran 157 tawanan perang pada 5 Februari lalu, sebuah langkah positif yang dikonfirmasi oleh pejabat Ukraina, AS, dan Kementerian Pertahanan Rusia. Presiden Zelenskyy pun menjamin bahwa pertukaran tawanan akan terus berlanjut. Utusan khusus AS, Steve Witkoff, yang memimpin tim mediasi Amerika, menilai pertukaran ini sebagai bukti bahwa “diplomasi yang berkelanjutan mampu memberikan hasil nyata” dan memajukan upaya damai.
Meski ada indikasi diplomasi, Zelenskyy tak menutupi kekhawatirannya. Ia menuding Rusia justru mempercepat serangannya. Dalam semalam, menurutnya, “lebih dari 400 drone dan sekitar 40 rudal” diluncurkan, menargetkan sektor energi Ukraina. Ini menjadi ironi di tengah upaya negosiasi. Zelenskyy mendesak semua pihak yang mendukung pembicaraan trilateral untuk merespons tindakan Moskow ini, agar “Rusia tidak bisa lagi menggunakan musim dingin sebagai alat tekanan terhadap Ukraina.” Sementara itu, negosiator Rusia Kirill Dmitriev kepada media pemerintah mengatakan bahwa negosiasi memang sedang berjalan, memberikan narasi yang berbeda dari Kyiv.
Tenggat waktu dari AS ini bisa menjadi tekanan serius bagi kedua belah pihak. Bagi Ukraina, ini mungkin berarti harus menghadapi pilihan sulit antara integritas wilayah dan tekanan internasional untuk mencapai kesepakatan. Sementara bagi Rusia, deadline ini bisa diartikan sebagai kesempatan untuk menekan Ukraina agar memenuhi tuntutan mereka, atau menghadapi konsekuensi yang belum dijelaskan oleh Washington. Bagaimanapun, upaya perdamaian di wilayah yang sudah bergolak selama bertahun-tahun ini memang selalu diwarnai kompleksitas dan tantangan besar.