New Delhi - Bank Sentral India (RBI) resmi menaikkan suku bunga acuan (repo rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%. Ini adalah kenaikan pertama dalam hampir empat tahun terakhir. Keputusan ini diambil untuk menekan inflasi yang terus melonjak, terutama akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga minyak mentah melambung di atas $100 per barel.
Gubernur RBI, Sanjay Malhotra, menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga saat ini 'tidak ada dalam agenda'. Pihaknya memproyeksikan inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) naik menjadi 5,2% untuk periode 2026-27, naik dari perkiraan sebelumnya 5%. Faktor cuaca ekstrem, lemahnya musim hujan, serta volatilitas harga minyak internasional menjadi pemicu utama.
Dampaknya bagi masyarakat India sangat langsung: biaya pinjaman untuk mobil, rumah, dan kredit pribadi dipastikan naik. Bank komersial akan segera menyesuaikan bunga kredit mereka. Pasar saham juga bereaksi negatif, dengan indeks Sensex dan Nifty melemah karena investor khawatir tingginya biaya pinjaman akan menekan konsumsi dan investasi korporasi.
Meski begitu, ada kabar baik. RBI justru menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 7,1%, naik 40 basis poin dari estimasi awal. Ekonomi India dinilai cukup tangguh untuk menyerap kenaikan suku bunga tanpa mengganggu pertumbuhan. Langkah RBI ini juga sejalan dengan kebijakan bank sentral global seperti The Fed yang agresif menaikkan suku bunga sejak 2022, memicu arus modal keluar dari negara berkembang menuju aset dolar AS.