Di tengah gemuruh permintaan chip untuk kecerdasan buatan (AI) yang tak ada habisnya, raksasa teknologi asal Belanda, ASML, justru mengumumkan rekor pesanan fantastis sekaligus kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawannya. Sebuah paradoks yang menarik perhatian, bagaimana perusahaan pemasok utama mesin pembuat chip tercanggih dunia ini menyikapi ledakan pasar AI?
ASML baru-baru ini mencatat rekor pesanan peralatan pembuat chip senilai 13,2 miliar euro, atau sekitar Rp 226 triliun, di kuartal terakhir 2025. Angka ini melonjak tajam dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 7 juta euro. Lebih dari separuh pesanan tersebut didominasi oleh mesin litografi ultraviolet ekstrem (EUV) paling canggih. Mesin ini adalah kunci utama untuk memproduksi chip AI paling mutakhir yang kini sangat dibutuhkan oleh industri.
Kinerja keuangan ASML sepanjang 2025 juga tak kalah impresif. Penjualan bersih perusahaan mencapai 32,7 miliar euro, dengan laba bersih melesat menjadi 9,6 miliar euro, naik dari 7,6 miliar euro di tahun 2024. Bahkan, ASML memproyeksikan penjualan bersih di tahun 2026 akan berkisar antara 34 miliar hingga 39 miliar euro. CEO ASML, Christophe Fouquet, mengungkapkan bahwa pelanggan mereka memberikan "penilaian pasar yang jauh lebih positif" untuk jangka menengah, didorong oleh ekspektasi permintaan AI yang terus menguat.
ASML memang bukan perusahaan sembarangan. Mereka memegang monopoli efektif dalam pembuatan mesin yang digunakan oleh raksasa seperti TSMC, Samsung Electronics, dan Intel untuk memproduksi chip AI tercanggih. Mesin EUV buatan mereka sangat eksklusif, hanya terjual sekitar 50 unit per tahun dengan harga fantastis, sekitar 250 juta euro atau lebih dari Rp 4 triliun per unitnya. Hasil laporan ini menjadi bukti nyata bahwa "ledakan AI masih sangat aktif," ujar Russ Mould, direktur investasi di AJ Bell. Permintaan yang sangat tinggi terhadap peralatan ASML mengonfirmasi investasi besar-besaran di sektor AI yang tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat.
Namun, di balik kabar gembira ini, ASML juga berencana memangkas sekitar 1.700 posisi, setara dengan 4% dari total 44.000 karyawannya di seluruh dunia. Sebagian besar PHK ini akan menargetkan posisi di tingkat kepemimpinan, baik di Belanda maupun Amerika Serikat. Fouquet menjelaskan, langkah ini diambil untuk meningkatkan "kegesitan" atau kelincahan proses kerja yang dinilai terlalu kaku dan lambat. Ia menambahkan, para insinyur, khususnya, ingin fokus pada pekerjaan rekayasa tanpa terhambat oleh alur proses yang berbelit.
Menurut Russ Mould, restrukturisasi ini lebih merupakan upaya ASML untuk "lebih fokus pada efisiensi dan cara kerja yang berbeda," ketimbang karena kekurangan pekerjaan. Namun, ia juga memberikan catatan penting, bahwa langkah ini bisa menjadi "tanda bahwa kegilaan AI mungkin sedang mencoba untuk menarik napas." Ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan pasar melambung tinggi, perusahaan tetap berhati-hati dan melakukan optimasi operasional agar tetap kompetitif dan berkelanjutan di masa depan.