Konflik yang membara di Timur Tengah tak hanya merenggut nyawa di medan perang, tapi juga secara tak terduga menghantam para pekerja migran dari Asia Selatan yang mengadu nasib di negara-negara Teluk. Mereka bukan sekadar statistik; di balik setiap korban adalah keluarga yang kehilangan harapan dan ekonomi negara yang terancam.
Laporan terbaru menyoroti bahwa sebagian besar korban tewas akibat serangan di negara-negara Teluk, pasca konflik AS-Israel di Iran dan serangan balasan Iran ke tetangganya, adalah pekerja migran dari Asia Selatan. Ambil contoh kisah pilu keluarga Khuntia di India. Putra mereka, Kuna, seorang pekerja pipa di Qatar, meninggal dunia bukan karena terkena rudal langsung, melainkan akibat syok berat setelah mendengar dentuman rudal dan puing yang jatuh di dekat kediamannya di Doha pada 7 Maret lalu. Kepergian Kuna menghancurkan mimpi keluarganya untuk melunasi utang 300.000 rupee ($3200) yang mereka tanggung demi pernikahan dua putrinya. Gaji Kuna sebesar 35.000 rupee ($372) per bulan, dengan setoran rutin 15.000 rupee ($164) ke kampung halaman, adalah satu-satunya harapan mereka.
Data menunjukkan, dari delapan korban tewas di Uni Emirat Arab akibat serangan Iran, lima di antaranya berasal dari Asia Selatan (tiga dari Pakistan, serta masing-masing satu dari Bangladesh dan Nepal). Sementara itu, tiga korban tewas di Oman semuanya adalah warga India, dan di Arab Saudi, tercatat satu warga India serta satu warga Bangladesh sebagai korban.
Fenomena ini bukan hal baru. Kawasan Teluk menjadi rumah bagi sekitar 21 juta pekerja migran dari Asia Selatan, angka yang mencapai sepertiga dari total populasi di sana. Mereka datang dari India (9 juta), Pakistan dan Bangladesh (masing-masing 5 juta), Nepal (1,2 juta), hingga Sri Lanka (650.000). Sebagian besar terlibat dalam pekerjaan kasar (blue-collar), membangun dan menopang industri serta layanan vital yang menjadi inti kemakmuran Teluk.
Ketergantungan ekonomi ini menciptakan kerentanan ganda. Bagi para pekerja migran, keselamatan jiwa mereka adalah taruhan. Namun, bagi keluarga dan negara asal mereka, aliran remitansi miliaran dolar yang menjadi urat nadi perekonomian kini berada di ujung tanduk. Eskalasi konflik bisa memicu gelombang pulang paksa, penurunan drastis remitansi, atau bahkan penghentian proyek-proyek yang mempekerjakan mereka. Ini akan memberikan tekanan ekonomi luar biasa pada negara-negara seperti Nepal, Bangladesh, dan Pakistan, yang sangat bergantung pada devisa dari pekerja migran. Masa depan jutaan keluarga, yang menggantungkan hidup pada kiriman uang dari Teluk, kini diselimuti ketidakpastian yang mencekam. Konflik ini, sejatinya, bukan hanya perang antarnegara, melainkan tragedi kemanusiaan dan krisis ekonomi yang mengancam jutaan jiwa di seberang benua.