ISRAEL BANDEL, KESEPAKATAN AS-IRAN TERANCAM GAGAL - Berita Dunia
← Kembali

ISRAEL BANDEL, KESEPAKATAN AS-IRAN TERANCAM GAGAL

Foto Berita

Jakarta, Senin Editorial – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mulai menghangat justru terancam oleh sikap 'kepala batu' Israel. Seorang analis kebijakan luar negeri, Trita Parsi, menyebut invasi dan serangan Israel di Lebanon saat ini menjadi 'kerentanan terbesar' bagi keberhasilan diplomasi antara Washington dan Teheran.

Masalahnya, Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara AS dan Iran secara eksplisit menuntut 'penghentian permanen operasi militer di semua lini, termasuk Lebanon'. Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, seolah tidak peduli. Militer Israel terus melancarkan serangan mematikan dan bahkan berusaha memperluas invasi daratnya. Mereka sudah menguasai hampir 20 persen wilayah Lebanon dan berkeras untuk mempertahankannya.

Kali ini, Gedung Putih di bawah Donald Trump benar-benar geregetan. Trump sendiri turun tangan dengan menulis di media sosial bahwa AS berkomitmen pada perdamaian dan mendesak gencatan senjata penuh di semua lini, termasuk Lebanon. Namun, sikap Israel yang agresif membuat Iran angkat bicara. Teheran dengan tegas menyatakan tidak akan menandatangani kesepakatan gencatan senjata selama Lebanon masih dibombardir.

Buntutnya, negosiasi teknis antara AS dan Iran pada Jumat lalu terpaksa ditunda. Penyebabnya, serangan Israel semalam suntuk di Lebanon menewaskan puluhan orang. Ini menunjukkan bahwa kartu Lebanon menjadi 'harga mati' bagi Iran. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan sudah mendapat jaminan dari presidennya bahwa hak-hak 'poros perlawanan' (termasuk Hizbullah di Lebanon) tidak akan dikorbankan dalam meja perundingan dengan AS.

Analis Trita Parsi dari Quincy Institute menegaskan, Iran tidak main-main dengan syarat ini. Sementara itu, lobi pro-Israel di AS seperti AIPAC langsung mengkritik klausul dalam MoU tersebut. Mereka menilai aturan itu akan membatasi gerak militer Israel untuk membasmi 'ancaman' Hizbullah. Situasi ini membuat peta jalan perdamaian di Timur Tengah semakin rumit, karena satu pihak (Israel) terus melakukan agresi, sementara dua pihak lainnya (AS dan Iran) saling bernegosiasi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook