Ironi pahit menyelimuti Jalur Gaza. Meski kesepakatan gencatan senjata sudah berjalan sejak 11 Oktober 2025, nyatanya nyawa warga Palestina terus melayang. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan lebih dari 1.600 orang tewas akibat serangan Israel selama periode yang disebut 'gencatan senjata' ini.
Kekerasan terbaru terjadi pada Kamis dini hari. Sedikitnya empat warga Palestina tewas, termasuk seorang anak, dalam insiden terpisah di Gaza tengah dan selatan. Di Deir el-Balah, seorang pria berusia 27 tahun tewas saat drone Israel menembakkan dua rudal ke tenda pengungsian di barat az-Zawayda. Serangan serupa juga merenggut nyawa seorang anak di kamp pengungsi Bureij dan seorang wanita di Khan Younis.
Dokter di lapangan melaporkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Pasukan Israel disebut terus melepaskan tembakan langsung ke arah rumah dan tenda-tenda pengungsi, terutama di area yang berbatasan langsung dengan zona militer Israel. Selain serangan udara, artileri dan kapal perang Israel juga membombardir garis pantai Gaza City. Tidak hanya itu, buldoser militer terlihat meratakan lahan pertanian dan rumah warga di sekitar 'Garis Kuning'.
Sejak gencatan senjata dimulai, total korban jiwa tercatat mencapai 1.602 orang dengan 5.794 luka-luka. Angka ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan sejak Oktober 2023, di mana total korban jiwa di Gaza telah menembus 74.618 orang. Pemerintah Gaza juga mencatat adanya 5.989 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, mulai dari penembakan, pemboman, hingga penghancuran rumah warga.