WASHINGTON, DC - Kesepakatan sementara antara Presiden AS Donald Trump dengan Iran menuai kritik pedas dari kubu Republik sendiri. Senator Bill Cassidy menyebut Memorandum of Understanding (MoU) 14 poin yang ditandatangani Rabu lalu sebagai 'blunder kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade'.
Dalam kesepakatan itu, AS dan Iran sepakat menghentikan operasi militer secara permanen di semua lini, termasuk di Lebanon. Iran juga berjanji membuka penuh Selat Hormuz yang praktis ditutup sejak akhir Februari. Sebagai imbalannya, Washington berkomitmen memberikan dana rekonstruksi sebesar 300 miliar dolar AS untuk Iran.
Kritik keras datang dari berbagai pihak. Senator Thomas Massie menyoroti nominal bantuan yang disebutnya lima kali lipat lebih besar dari anggaran tahunan AS untuk jalan dan jembatan. Mantan Dubes PBB Nikki Haley mempertanyakan logika membantu rezim yang 'meneriakkan kematian bagi Amerika dan membunuh tentara kita'.
Yang menarik, mantan Wapres Mike Pence justru membandingkan MoU ini dengan kesepakatan era Obama yang dulu dikecam Trump. 'Kesepakatan ini terasa seperti bentuk peredaman yang dulu kami tolak,' ujar Pence. Ia menuntut Iran membongkar program nuklir dan misilnya secara total.
Analis menilai kesepakatan ini menunjukkan perubahan drastis sikap Trump terhadap Iran. Sebelumnya, ia menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015 karena dianggap terlalu lunak. Kini, langkah kontroversial ini justru memicu perpecahan internal di partainya sendiri dan dipertanyakan efektivitasnya dalam jangka panjang.