Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru saja merilis doktrin keamanan nasional terbaru lengkap dengan peta aliansi kawasan. Langkah ini diambil hanya sembilan hari sebelum pemilihan parlemen digelar, momen krusial yang bisa menentukan kelanjutan kekuasaannya.
Doktrin yang disusun bersama Dewan Keamanan Nasional Israel ini menekankan pendekatan militer preemptif alias serangan pencegahan, perluasan zona penyangga, serta pencarian mitra regional baru. Kebijakan ini sebenarnya sudah terlihat diterapkan dalam beberapa tahun terakhir melalui berbagai operasi militer terhadap negara tetangga.
Analis menilai timing peluncuran peta dan doktrin ini sarat muatan politik. Netanyahu tengah berjuang mempertahankan kursi di tengah kritik atas penanganan serangan 7 Oktober 2023, dugaan korupsi yang menjeratnya, dan kontroversi kebijakan perang. Ia berupaya memposisikan diri sebagai 'Mr Security' demi meraih suara pemilih yang mungkin tidak menyukai perilakunya namun tetap menganggapnya sebagai pemimpin paling mampu melindungi negara.
Dalam paparannya, Netanyahu juga memperingatkan kemungkinan datangnya pemerintahan AS yang kurang mendukung Israel dalam dua tahun ke depan sepeninggal Presiden Trump. Karena itu, ia menekankan pentingnya memperluas jaringan aliansi dan mengembangkan kapabilitas agar Israel tetap menjadi aset berharga bagi negara lain.
Analis dari Carnegie Middle East Center, Mohanad Hage Ali, menilai strategi ini sengaja menumbuhkan rasa takut eksistensial di kalangan pemilih. Tujuannya jelas: mendorong masyarakat merasa butuh sosok pemimpin tegas di tengah ketidakpastian. Pendekatan 'setan yang dikenal' ini diharapkan membuat warga enggan mencoba perubahan politik di saat sensitif.
Dampaknya bagi masyarakat Israel sendiri cukup signifikan. Doktrin ini berpotensi memperpanjang konflik bersenjata dan memperbesar anggaran militer, yang ujung-ujungnya membebani rakyat. Sementara bagi kawasan, perluasan zona penyangga dan serangan preemptif berisiko meningkatkan ketegangan dengan negara-negara tetangga dan memperburuk isolasi diplomatik Israel di mata dunia.