Situasi politik di Venezuela kembali memanas. Tokoh oposisi terkemuka, Juan Pablo Guanipa, yang baru saja menghirup udara bebas, kini ditangkap kembali dan dikenakan tahanan rumah. Langkah ini memicu kecaman keras dari pihak oposisi yang menudingnya sebagai upaya pembungkaman dan 'penculikan'.
Kantor Jaksa Agung Venezuela pada Senin (Waktu setempat) menyatakan bahwa Guanipa, sekutu tokoh oposisi lainnya Maria Corina Machado, ditahan kembali karena dinilai tidak mematuhi persyaratan pembebasannya pada Minggu sebelumnya. Jaksa Agung tidak merinci pelanggaran yang dimaksud, namun menegaskan bahwa penahanan rumah ini dilakukan untuk 'menjaga proses kriminal' terhadap Guanipa, yang dituduh memimpin plot 'teroris'.
Di sisi lain, keluarga dan sekutu Guanipa menolak narasi pemerintah. Ramon, putra Guanipa, menyebut penangkapan ayahnya sebagai 'penculikan' oleh sekitar 10 orang bersenjata tak dikenal. Machado, melalui akun X-nya, juga mengecam insiden yang terjadi di lingkungan Los Chorros, Caracas, dan menuntut pembebasan segera Guanipa.
Penangkapan ulang ini terjadi hanya beberapa jam setelah Guanipa memposting beberapa video di media sosial, menyapa jurnalis dan pendukung. Dalam pesannya, ia mendesak pembebasan tahanan politik lainnya dan terang-terangan menyebut pemerintahan yang ada sebagai tidak sah.
Sebelumnya, Guanipa sempat ditahan pada Mei lalu (dalam berita asli tercatat Mei 2025, kemungkinan kesalahan ketik, mengacu pada masa lalu) dan dibebaskan pada Minggu sebagai bagian dari ratusan tahanan politik yang dibebaskan sejak 8 Januari. Pembebasan massal ini terjadi di bawah tekanan dari Amerika Serikat.
Peristiwa ini menambah kerumitan dalam kancah politik Venezuela yang tengah bergejolak. Pada 3 Januari, Presiden Nicolas Maduro diklaim 'diculik' oleh pasukan AS dalam operasi militer di Caracas dan dibawa ke Amerika Serikat, di mana ia didakwa atas tuduhan narkoba dan senjata. Sejak saat itu, Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengambil alih sebagai presiden sementara. Rodriguez menunjukkan perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri, dengan mulai bekerja sama dengan AS dan membuka cadangan minyak besar Venezuela untuk perusahaan internasional.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan demokrasi di Venezuela. Selama bertahun-tahun, kelompok oposisi dan hak asasi manusia menuduh pemerintah Venezuela menggunakan penahanan untuk membungkam perbedaan pendapat. Namun, pemerintah selalu membantah tuduhan tersebut, bersikeras bahwa mereka yang dipenjara telah melakukan kejahatan.
Penahanan kembali Guanipa bisa diinterpretasikan sebagai sinyal keras dari pemerintah sementara Rodriguez, meskipun di saat yang sama ia mencoba membangun kembali hubungan dengan Washington. Ini menciptakan dilema bagi Washington yang sebelumnya menekan untuk pembebasan tahanan politik, namun kini dihadapkan pada tindakan keras terbaru dari rezim yang justru berupaya mereka rangkul. Pembukaan sektor minyak Venezuela kepada investor asing, termasuk perusahaan AS, yang juga menjadi agenda beberapa tokoh oposisi seperti Machado, menambah lapisan kompleksitas pada dinamika kekuasaan dan kepentingan geopolitik di negara kaya minyak tersebut.