Mogadishu – Duel politik antara kubu pemerintah dan oposisi di Somalia berubah menjadi pertempuran bersenjata di ibu kota, Mogadishu. Warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka setelah tembakan senjata berat dan ledakan mortar mengguncang kawasan pemukiman selama dua hari berturut-turut.
Kekacauan ini dipicu oleh keputusan Presiden Hassan Sheikh Mohamud yang memperpanjang masa jabatannya meski sudah habis pada bulan lalu. Langkah itu otomatis menunda pemilu dan membuat oposisi marah besar. Mereka menuduh Mohamud ingin mengkonsolidasikan kekuasaan secara otoriter, meski pemerintah membantah tuduhan tersebut.
Pertempuran pecah pada Rabu dan berlanjut hingga Kamis pagi. Warga melaporkan suara tembakan dan ledakan di beberapa lingkungan. Seorang warga bernama Abdullahi Mohamed mengatakan kepada AP, 'Kami mendengar tembakan senjata berat, orang-orang berlarian menyelamatkan diri.'
Mantan Perdana Menteri Hassan Ali Khaire mengecam pemerintah. Dalam cuitannya, ia menyebut aparat menggunakan 'senjata berat yang seharusnya dipakai untuk memerangi Al-Shabaab, malah diarahkan ke rakyat sendiri.' Ia juga menyoroti sabotase jaringan listrik yang sengaja dilakukan untuk menekan warga.
Belum ada laporan resmi korban jiwa, namun analis keamanan setempat mengonfirmasi adanya korban sipil di sejumlah titik. Dua kendaraan lapis baja juga dilaporkan terbakar. Pertempuran mereda pada pukul 09.30 waktu setempat setelah pemerintah dan oposisi sepakat berunding.
Uni Afrika, Uni Eropa, dan Kedutaan Besar AS di Mogadishu menyerukan pengendalian diri. Mereka khawatir bentrokan di area padat penduduk akan memicu krisis kemanusiaan baru di Somalia, negara yang belum pulih dari perang saudara selama puluhan tahun.