Arab Saudi mengucurkan dana investasi jumbo ke Suriah, menandai era baru pemulihan pasca-perang saudara yang mematikan. Kesepakatan bernilai miliaran dolar AS ini mencakup sektor vital seperti penerbangan, energi, properti, hingga telekomunikasi, bertujuan menghidupkan kembali denyut nadi ekonomi Suriah.
Otoritas Investasi Suriah, Talal al-Hilali, mengumumkan sederet proyek ambisius. Salah satunya adalah pembangunan dua bandara internasional di kota Aleppo senilai $2 miliar AS, yang dibiayai oleh Elaf Fund milik Saudi. Tak hanya itu, maskapai berbiaya rendah 'Flynas Syria' juga akan segera mengudara di kuartal keempat 2026, serta proyek telekomunikasi 'SilkLink' yang siap menjadikan Suriah hub regional, dengan investasi hampir $1 miliar AS untuk ribuan kilometer kabel penghubung Asia-Eropa. Kementerian Energi Suriah juga menandatangani kesepakatan air dengan ACWA Power dari Arab Saudi.
Langkah ini terjadi setelah kepemimpinan baru Suriah berkuasa usai menggulingkan Bashar al-Assad pada Desember 2024 dan sanksi AS dicabut di bulan yang sama. Arab Saudi, yang kini jadi pendukung utama, berharap investasi ini jadi pilar utama pembangunan kembali ekonomi Suriah yang porak-poranda dan berdampak pada kehidupan masyarakat.
Meski disambut positif oleh sejumlah pihak, termasuk utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, ada nada kehati-hatian. Analis Benjamin Feve mengingatkan, kesepakatan ini 'lebih sebagai sinyal politik ketimbang pengubah ekonomi jangka pendek'. Kritik serupa juga muncul terkait janji investasi sebelumnya yang banyak belum terwujud menjadi kontrak mengikat.
Bagi masyarakat Suriah, investasi ini tentu membawa angin segar harapan. Potensi terbukanya lapangan kerja, peningkatan konektivitas, serta perbaikan infrastruktur dasar seperti air dan transportasi udara, bisa menjadi katalis kebangkitan. Namun, pemerintah Suriah punya pekerjaan rumah besar: memastikan janji-janji ini benar-benar terealisasi dan berdampak nyata bagi kesejahteraan rakyat, bukan sekadar komitmen di atas kertas.