Taiz, Yaman – Pengepungan total yang dilakukan kelompok Houthi terhadap Kota Taiz, Yaman selatan, telah memasuki hari ke-30 dan memicu peringatan keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Situasi ini dikhawatirkan berujung pada bencana kemanusiaan besar karena pasokan makanan, air bersih, bahan bakar, dan obat-obatan tidak dapat masuk ke kota.
PBB berulang kali menyerukan peringatan bahwa Taiz berada di ambang 'katastrofe'. Sekitar 1,5 juta jiwa penduduk Kota Taiz serta 180.000 pengungsi internal yang terjebak di distrik pedesaan terdampak langsung oleh blokade ini. Salah satu warga, Ahmed al-Mikhlafi, mengisahkan bagaimana ia dan keluarganya sempat terjebak di pedesaan barat Taiz selama lebih dari dua minggu setelah pulang umrah dari Mekkah, karena jalur utama kota telah diputus oleh pertempuran.
Pengepungan dimulai ketika Houthi merebut al-Turbah, kota di barat daya Taiz, yang memutus arteri utama penghubung kota dengan Aden dan dunia luar. Sejak 2015, Houthi memang telah mengepung Taiz dari utara, timur, dan selatan. Namun, pengambilalihan wilayah pedesaan barat baru-baru ini membuat kota tersebut benar-benar terkepung secara total dari segala arah.
Dampaknya sangat luas. Selain krisis pangan dan medis, tumpukan sampah dalam jumlah ton tidak dapat diangkut ke tempat pembuangan akhir sehingga menumpuk di jalanan dan berpotensi memicu wabah penyakit. Kepala Urusan Pengepungan Pemerintah Taiz, Salah Ahmed Ghaleb al-Majidi, menyebut situasi ini sebagai 'pengepungan katastrofe terburuk yang menimpa kota Yaman sejak perang dimulai pada 2014'. Ia juga menyoroti dampak sosial, di mana keluarga-keluarga kesulitan bertemu kerabat karena jalan utama maupun alternatif diputus oleh Houthi.
Analisis Dampak: Blokade ini tidak hanya menghambat bantuan kemanusiaan, tetapi juga melumpuhkan roda perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. Dengan akses jalan darat yang terputus total, risiko kelaparan dan kematian akibat penyakit yang tidak tertangani akan meningkat drastis jika gencatan senjata tidak segera terwujud. Masyarakat internasional didesak untuk menekan pihak-pihak bertikai agar membuka koridor kemanusiaan sebelum situasi semakin tidak terkendali.