Pemilihan umum sela (midterms) Amerika Serikat pada Selasa (8/11) mendatang diprediksi akan menjadi mimpi buruk bagi partai yang berkuasa. Sejarah mencatat, dalam 20 pemilu sela sejak 1946 hingga 2022, partai presiden hampir selalu kehilangan kursi di DPR, dengan rata-rata kehilangan 26 kursi. Fenomena ini dikenal sebagai 'presidential penalty' atau hukuman presiden, di mana pemilih cenderung membatasi kekuasaan Gedung Putih dengan memberikan suara kepada oposisi.
Seluruh 435 kursi DPR dan 35 dari 100 kursi Senat diperebutkan dalam ajang yang dianggap sebagai referendum atas kinerja presiden ini. Meski nama presiden tidak ada di surat suara, hasilnya sering kali mencerminkan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan ekonomi dan sosial pemerintahan saat ini. Partai Demokrat mencatat rekor kekalahan terburuk pada 2010 silam dengan kehilangan 64 kursi DPR, sementara Partai Republik kehilangan 42 kursi pada pemilu sela pertama Donald Trump di 2018.
Dampak bagi masyarakat AS sangat signifikan. Jika partai presiden kalah, kebijakan legislatif seperti anggaran kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur bisa terhambat oleh parlemen yang dikuasai oposisi. Selain itu, hasil pemilu sela ini akan menentukan arah pemerintahan selama dua tahun ke depan, termasuk kelancaran proses pengesahan undang-undang dan potensi deadlock politik yang merugikan stabilitas ekonomi negara.