Komite Pemilihan Umum Israel resmi mengesahkan hasil pemilu parlemen pekan lalu. Keputusan ini diambil setelah audit di 9.069 TPS tidak menemukan bukti kecurangan atau pelanggaran yang bisa mengubah hasil suara. Pengesahan ini menjadi pukulan telak bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang terus berusaha menggugat hasil pemilu.
Ketua Komite, Hakim Agung Noam Sohlberg, menegaskan bahwa pihak yang meragukan hasil pemilu justru membahayakan demokrasi. Ia menolak permintaan Partai Likud untuk membahas hasil sebelum disahkan. Meski begitu, Partai Likud dan Shas memilih abstain dalam voting pengesahan, sementara Yesh Atid dan Blue and White mendukung.
Netanyahu dan sekutunya menuduh partai yang dipimpin Arab 'mencuri' suara, klaim yang dibantah keras oleh aparat keamanan. Shin Bet bahkan disebut tengah menyelidiki dugaan pendanaan asing, namun sumber penegak hukum meragukan skala operasi sebesar itu. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir meminta penangkapan pemimpin partai Arab, memicu ketegangan politik yang memanas.
Analisis Dampak: Pengesahan ini membuka jalan bagi Presiden Isaac Herzog untuk memulai konsultasi pembentukan pemerintahan baru. Bagi masyarakat Israel, ketegangan politik yang tinggi berisiko memicu instabilitas sosial. Sementara itu, bagi publik internasional, legitimasi pemilu Israel kini dipertaruhkan di tengah tuduhan intervensi asing yang belum terbukti. Jika koalisi baru gagal terbentuk, Israel bisa terancam pemilu ulang, memperpanjang krisis politik yang sudah berlangsung lama.