Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth baru-baru ini mengungkap bahwa Pentagon sedang mencari dana tambahan yang jumlahnya fantastis dari Kongres untuk membiayai operasi militer AS-Israel di Iran. Angkanya disebut mencapai $200 miliar, atau sekitar Rp3.200 triliun! Yang lebih mengejutkan, Hegseth menegaskan bahwa perang ini tidak punya batas waktu pasti dan keputusan kapan berhenti sepenuhnya ada di tangan Presiden Donald Trump. Permintaan dana raksasa ini langsung memicu pertanyaan besar di Capitol Hill, apalagi Kongres sendiri belum memberi restu resmi untuk operasi militer tersebut.
Pentagon dikabarkan meminta dana segar $200 miliar (sekitar Rp3.200 triliun) kepada Kongres. Angka ini luar biasa besar, jauh di atas kucuran dana tambahan yang sudah diterima Pentagon tahun lalu melalui kebijakan pemotongan pajak Presiden Trump. Meski Hegseth belum mengonfirmasi angka pastinya, ia mengakui 'uang dibutuhkan untuk menumpas orang jahat' dan jumlahnya bisa berubah seiring kebutuhan operasi lapangan. Ini mengindikasikan potensi perang berkepanjangan yang bisa menyedot sumber daya besar AS, mengingat pernyataan Hegseth bahwa konflik ini 'tidak punya batas waktu pasti' dan keputusan kapan mengakhiri operasi militer sepenuhnya di tangan Presiden Trump.
Permintaan dana sebesar ini menuai keraguan di Kongres. Meskipun Partai Republik, partai Trump, menguasai DPR, banyak anggota konservatif justru dikenal sebagai 'fiscal hawks' yang enggan mengucurkan dana besar, apalagi untuk operasi militer tanpa otorisasi jelas. Partai Demokrat tentu saja juga cenderung menolak, menuntut rencana strategis dan tujuan yang lebih rinci dari Pentagon. Ketua DPR Mike Johnson (Republikan) memang sempat menyatakan dukungan untuk 'apa pun yang dibutuhkan demi keamanan rakyat Amerika', namun ia mengaku belum meninjau detail proposal pendanaan.
Angka $200 miliar bukanlah jumlah yang main-main. Jika disetujui, dana sebesar itu bisa membebani anggaran negara secara signifikan, berpotensi memicu inflasi, atau memangkas alokasi untuk program-program domestik penting seperti kesehatan dan pendidikan. Perang tanpa batas waktu juga meningkatkan ketidakpastian geopolitik, tidak hanya di Timur Tengah tapi juga secara global. Konflik yang berlarut-larut bisa memperburuk hubungan internasional dan menguras sumber daya ekonomi dan manusia AS, sementara kebutuhan di dalam negeri mungkin terabaikan. Ini juga menimbulkan pertanyaan serius tentang checks and balances dalam pemerintahan AS, mengingat Kongres hingga kini belum memberikan otorisasi resmi untuk perang tersebut.