Jelang putaran final Pilpres Brasil pada Minggu (30/10), jagat maya memanas. Raksasa teknologi Metaāpemilik Facebook, WhatsApp, dan Instagramādituding melakukan intervensi dengan menekan konten kampanye Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva dan menguntungkan rivalnya, Senator Flavio Bolsonaro.
Dugaan ini bukan isapan jempol. Laporan dari media Brasil, G1, mengungkap fakta mengejutkan: Meta meraup setidaknya 288 juta real Brasil (sekitar Rp 800 miliar) dari belanja iklan kampanye langsung pada 2026. Angka ini melonjak dua kali lipat dibanding Pilpres 2022, menandakan perang siber kini jadi medan tempur utama.
Perubahan lanskap politik ini tak lepas dari peran media sosial yang kini menjadi sumber berita utama bagi 76 persen pemilih Brasil. Peneliti dari University of Southern Denmark, Andre K Rodarte, menyebut fenomena ini melahirkan kelas politisi baru yang mengandalkan pesan provokatif dan viral. Namun, di balik efisiensi kampanye digital, ada bahaya besar: demokrasi kini berada di bawah kendali algoritma korporasi raksasa yang punya bias kepentingan sendiri.