Konflik di Timur Tengah kembali memanas, memicu kekhawatiran serius akan pasokan energi global. Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur maritim super strategis, telah membuat pasar minyak dunia gelisah dan berpotensi memicu lonjakan harga yang signifikan.
Setelah serangan AS-Israel ke Iran dan balasan dari Teheran yang menargetkan aset di berbagai negara Timur Tengah, ketegangan kian meruncing. Analis kini mewanti-wanti potensi meroketnya harga minyak dunia jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz. Jalur ini bukan sekadar selat biasa, melainkan urat nadi vital yang dilewati sekitar 20-30 persen pasokan minyak dan gas global setiap harinya.
Pada Sabtu lalu, seorang pejabat Uni Eropa mengungkap adanya transmisi frekuensi tinggi (VHF) dari Garda Revolusi Iran (IRGC) kepada kapal-kapal yang melintas, dengan pesan tegas: "Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz." Meski belum ada penutupan resmi, isyarat ini sudah cukup membuat cemas. Akibatnya, beberapa pemilik tanker kini memilih menunda pengiriman minyak dan gas melalui selat itu. Bahkan, negara seperti Yunani telah menyarankan kapalnya untuk menghindari jalur perairan tersebut, demi keamanan.
Selat Hormuz, yang terletak di antara Oman dan Uni Emirat Arab di satu sisi, serta Iran di sisi lain, menghubungkan Teluk Arab/Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Meski lebarnya hanya 33 kilometer di titik tersempit, dengan jalur pelayaran cuma 3 kilometer di setiap arah, jalur inilah yang menampung kapal-kapal pengangkut minyak terbesar di dunia. Para eksportir minyak dan gas utama di Timur Tengah sangat bergantung pada selat ini untuk mengirimkan pasokan ke pasar internasional. Demikian pula negara-negara pengimpor, yang sangat bergantung pada kelancaran operasinya.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat, pada tahun 2024, sekitar 20 juta barel minyak senilai sekitar $500 miliar dalam perdagangan energi global tahunan melewati Selat Hormuz setiap hari. Minyak mentah yang melintas berasal dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, sekitar seperlima pengiriman gas alam cair (LNG) global, yang sebagian besar dari Qatar, juga melintasi koridor ini. Sebanyak 84 persen pengiriman minyak mentah dan kondensat serta 83 persen volume LNG yang melewati selat ini pada 2024 menuju pasar Asia, menjadikan kawasan ini paling terdampak.
Jika jalur ini terganggu, stabilitas ekonomi global bisa terguncang parah. Tak hanya harga energi yang melonjak di berbagai negara, tapi juga biaya logistik dan inflasi di berbagai sektor, yang pada akhirnya akan membebani masyarakat di seluruh dunia. Konflik geopolitik ini berpotensi merembet menjadi krisis ekonomi global yang berdampak langsung pada kantong setiap rumah tangga.