Gelombang demonstrasi besar-besaran di Prancis berujung ricuh. Sebanyak 1.800 orang ditangkap dan ratusan lainnya luka-luka setelah ratusan ribu massa turun ke jalan dalam aksi terbesar sejak protes reformasi pendidikan dan kenaikan harga hidup dimulai bulan lalu.
Di Paris, warga dibuat geram melihat kondisi kotanya. Jendela pecah, bangunan hangus, dan toko-toko dijarah. Seorang warga senior, Rabah, menyebut aksi anarkis ini tidak bisa diterima. "Dulu kami juga demonstrasi, tapi damai," ujarnya. Sementara Claire, warga 56 tahun, mengaku sangat marah melihat Paris hancur. Bahkan patung Marianne, simbol Republik Prancis, penuh corat-coret bertuliskan "Mereka yang menabur kesengsaraan menuai kemarahan."
Protes yang dipimpin mahasiswa ini awalnya soal kelas penuh sesak dan kekurangan guru. Tapi isu merembet ke ketimpangan sistemik dan minimnya lapangan kerja. Aparat mencatat 550.000 demonstran turun ke jalan, sementara serikat pekerja mengklaim 800.000 orang. Sayangnya, aksi damai mayoritas massa tertutup oleh ulah kelompok anarkis yang memakai pakaian hitam dan menutupi wajah.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menegaskan demonstrasi adalah hak, tapi kekerasan tidak bisa ditoleransi. Lebih dari 500 aparat kepolisian dan petugas pemadam kebakaran jadi korban luka. Presiden Emmanuel Macron dijadwalkan memberikan pidato kenegaraan pada Minggu malam waktu setempat untuk merespons krisis ini.