BEIRUT — Gelombang kekerasan kembali melanda Lebanon selatan. Setidaknya 10 orang tewas, termasuk sejumlah perwira tinggi militer, dalam serangan Israel yang terjadi hanya beberapa hari setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata bersyarat dalam negosiasi yang dimediasi Amerika Serikat.
Korban paling menonjol adalah Brigadir Jenderal Wassam Sabra, Kapten Elie Khoury, dan prajurit Hussein Ghozal. Mereka tewas ketika kendaraan militer yang mereka tumpangi dihantam rudal Israel di jalan Khardali-Nabatieh, Sabtu (15/3). Tentara Israel mengklaim serangan itu terjadi di 'zona pertempuran aktif' dan menuding pihak Lebanon tidak melakukan koordinasi sebelumnya. Insiden ini kini masih dalam penyelidikan militer Israel.
Presiden Lebanon Joseph Aoun bereaksi keras. Ia menyebut serangan itu sebagai 'pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon dan hukum internasional'. Perdana Menteri Nawaf Salam juga mengecam, menyebutnya sebagai 'kejahatan keji dan serangan terhadap seluruh rakyat Lebanon'. Sementara itu, Hizbullah menuding pemerintah Lebanon 'menyerah total pada tuntutan musuh di Washington' sehingga membuka celah bagi agresi Israel.
Yang lebih memprihatinkan, menurut laporan Al Jazeera, ini bukan pertama kalinya tentara Lebanon menjadi sasaran. Lebih dari 50 personel militer telah tewas sejak konflik ini dimulai pada 2 Maret lalu. Namun, yang baru terjadi ini adalah pertama kalinya seorang jenderal bintang satu gugur. Analis menilai, lemahnya posisi tawar pemerintah Lebanon dan ketidakmampuan mengusir pasukan Israel dari desa-desa perbatasan menjadi pemicu terus berulangnya tragedi serupa.
Tak hanya itu, serangan terpisah juga terjadi di desa Saksakiyah yang menewaskan enam warga sipil. Satu orang lainnya tewas akibat serangan drone di Deir al-Zahrani. Israel bahkan kembali memerintahkan evakuasi paksa untuk lima desa di Lebanon selatan, memaksa ribuan warga mengungsi ke utara Sungai Zahrani.
Insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya 'gencatan senjata bersyarat' yang disepakati. Alih-alih mereda, agresi Israel justru meningkat dengan menyasar simbol kekuatan militer Lebanon. Situasi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya perang skala penuh jika masyarakat internasional tidak segera turun tangan secara nyata.